Minggu, 09 Desember 2012

OTM Pilokarpin HCl (bagian 1)



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang


Sukur Alhamdulilah kita diberi kenimatan berupa panca indera penglihatan yang begitu sempurna. Allah SWT telah merancang suatu gerbang cakrawala untuk bisa melihat alam semesta dengan kedua mata yang telah diberikan-Nya. Sehinga sudah semestinya sebagai tanda terimakasih atas nikmat yang telah diberikan, kita harus menjaga kedua mata yang dianugrahkan ini.
Tetapi memang tidak mudah untuk menjaga mata, terlebih dalam masalah kesehatan. Karena diperjalanan hidup ini tidak mungkin seorang manusia tidak pernah mengalami sakit(mata). Baik sakit mata ringan seperti mata merah, iritasi, perih bahkan sampai yang ada menimbulkan kebutaan. Oleh karena itu diperlukan suatu obat untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. Salah satu pengobatan yang bisa digunakan adalah tetes mata karena secara umum larutan berair lebih stabil daripada salep. Selain itu tidak menganggu penglihatan ketika digunakan.
Tetes mata juga mempuyai kemampuan lasung untuk bersentuhan dengan kornea mata. Sehingga sangat efektif digunakan untuk mengatasi masalah-masalah yang terjadi di bola mata.
Salah satu masalah mata yang ada di Indonesia saat ini adalah penyakit glukoma. Glaukoma adalah suatu keadaan tekanan intraokuler/tekanan dalam bola mata relatif cukup besar untuk menyebabkan kerusakan pupil saraf optik dan menyebabkan kelainan lapang pandang. Berdasarkan Survei Kesehatan Indera Penglihatan tahun 1993-1996 yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia didapatkan bahwa glaukoma merupakan penyebab kebutaan nomer 2 sesudah katarak (prevalensi 0,16%). Katarak 1,02%, Glaukoma  0,16%, Refraksi 0,11% dan Retina 0,09%. Akibat dari kebutaan itu akan mempengaruhi kualitas hidup penderita terutama pada usia produktif, sehingga akan berpengaruh juga terhadap sumberdaya manusia pada umumnya dan khususnya Indonesia.
Berdasarkan beberapa alasan diatas, maka kami putuskan untuk membuat suatu formula tetes mata yang mempuyai kemampuan untuk mencegah dan mengatasi glukoma dengan bahan aktif pilokarpin. Pilokarpin adalah salah satu senyawa yang bisa digunakan untuk untuk penanganan glukoma karena memiliki efek miosis. Miosi adalah suatu kemampuan obat yang dapat menyebabkan kontraksi dari pupil mata. Dengan terbukanya pupil maka cairan dalam mata keluar sehingga menurunkan tegangan intraokular (dalam mata).
Oleh karena itu pengunaa formula obat tetes mata pilokarpin sangat pas untuk mengatasi glucoma. Dengan harapan akhir bisa menolong para masyarakat penderita glucoma yang saat ini kasusnya masih banyak terjadi.


1.1   Tujuan 
1.          Merancang suatu formula dan memperatekan pembuatan sediaan steril tetes mata. 
2.           Melakukan evaluasi sediaan obat tetes mata.

1.2   Manfaat
      1.       Bisa memacu semangat untuk terus berkreasi dalam mengembangkan sediaan.
      2.       Menumbuhkan rasa percaya diri, dan mampu membuat keunikan dalam formulasi yang dapat diterima
            oleh pasar.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Difenisi
Obat tetes mata atau Guttae Opthalmicae adalah sediaan steril berupa larutan atau suspensi, digunakan untuk mata dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata di sekitar kelopak  mata dan bola mata. (FI III, hal 10).
2.2 Keuntungan dan Kerugian
·         Keuntungan
Secara umum larutan berair lebih stabil daripada salep, meskipun salep dengan obat yang larut dalam lemak diabsorpsi lebih baik dari larutan/salep yang obat-obatnya larut dalam air. Selain itu tidak menganggu penglihatan ketika digunakan (AMA Drugs : 1624)
·         Kerugian
Kerugian yang prinsipil dari larutan mata adalah waktu kontak yang relatif singkat antara obat dan permukaan yang terabsorsi. (RPS 18 th : 1585)

2.3 Persyaratan
Persayaratan obat tetes mata harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1.  Steril  
Farmakope moderenmensyaratkan sterilitas kuman bagi optimika (angka kuman harus = 0). Pembuatan tetes mata pada dasarnya dilakukan pada kondisi kerja aseptik.
2.      Kerjenihan
Persyaratan larutan bebas partikel bertujuan menghindari ransangan akibat adanya bahan padat. Fitrasi dengan kertas saring atau kain wol tidak dapat menghasilkan larutan bebas partikel melayang. Oleh karena itu , sebagai material penyaring kita mengunakan leburan gelas. Misalnya, jeanaer fritten berkuran poro G3-G5.
3.      Pengawetan (antimicrobial preservative)
Bahan pengawet yang digunakan adalah thiomersal 0,002% fenilmuerkuri 0,002%, garam alkonium dan garam banzalkonium 0,002%-0,001% dalam kombinasinya dengan natrium edetat 0,01%, lalu yang lainya adalah klorheksidain 0,005-0,01%, klorbutanol 0,5% dan benzillalalkohol 0,5%-1%.

Tabel 2.1 Obat tetes mata menggunakan antimicrobial preservative


Benzalkonium cholida 0,01%
Chlorhexidine acetat 0,01%
Phenylmercuric nitrate 0,002%
Atrapon sulfat
Gorbechol
Gycolopentolate
Homatropine
Hyoscine
Hypromellose
Phenylephrine
Physostigmine
Pilocarpine
Prednisolone
Cocaine
Cocain dan homatropine
Tetracaine
Ghloramphenicol
Fluorescein
Hydrocortisone dan neomycin
Lochesine
Neomicin
Sulfacetaminde
Zinc sulphate
Zinc sulfat dan adrenalin
Epineprin
4.      Tonissitas
Karena kandungan elektrolit dan koloid di dalamnya, cairan air mata memiliki tekanan osmotik, yang nilainya sama dengan darah cairan jaringan.besarnya adalah 0,065-0,8 M pa (6,5-8 atmosfir), penurunan titik bekunya terhadap air 0,520K atau kosentrasinya sesuai dengan larutan natrium klorida 0,9% dalam air. Larutan hipertonis relatif lebih dapat diterima daripada hipotonis. Larutan yang digunakan pada mata luka atau yang telah dioprasi mengunakan larutan isotonis. Pada larutan yang mengandung perak, kita memakai garam nitrat 1,2-1,6%.
5.      Stabilitas (Pendapar, Vikositas, dan Aktivitas`Permukaan)
a.       Pendapar
Harga pH mata sama dengan darah, yaitu 7,4. Pada pemakaian tetesan bias, larutan yang nyaris tanpa rasa nyeri adalah larutan dengan pH 7,3-9,7. Namun, ph 5,5-11,4 masih dapat diterima. Pengaturan ph sangat berguna untuk mencapai rasa bebas nyeri, meskipun kita sangat sulit merealisasikanya.
Misal: gara alkaloid yang umunya dipakai sebagai tetes mata memiliki stablitas maksimal pada ph 2-4 yang jelas sangat tidak fisiologis. Dengan demikian, kita perlu menaikan pH-nya untuk menunjukkan peningkatan keseimbangan fisiologis, larutan dibangan dilakkan dengan larutan isotonis.
Larutan dapar berikut digunakan secara internasionak:
·       Dapar natrium asetat-Asam borat, kapasitasnya tinggi di daerah asam.
·         Dapar pospha, kapasitanya tinggi di daerah alkalis
Jika harga ph yang ditetapkan atas dasar stabilitas berada di luar daerah yang dapat diterima secara fisiologis, maka kita wajib menambahkan larutan dapar dan melakukan pengaturan pH melalui penambahan asam atau basah.
b.      Vikositas dan aktivitas permukaan
Tetes mata dalam air mempuyai kekurangan karena dapat ditekan keluar dari saluran konjungtiva oleh gerakan pelupuk mata. Namun, melalui peningkatan vikositas tetes mata dapat mencapai distribusi bahan aktif yang lebih baik dalam cairan dan waktu kontak yang lebih panjang. Sebagai peningkatan vikositas, kita memakai metilselulosa dan polivinilpolidon (PVP) dan dan sangat disarankan menggunakan polivinilpolidon (PVP) 1-2%. Vikositas sebaiknya tidak melampaui 49-50 mpa detik (40- 50 cP) sebab jika tidak, maka akan terjadi penyumbatan saluran air mata. Kita memakai larutan dengan harga vikositas 5-15 mPa detik (5-15 cp). Apabila zat pada sulit larut, maka kita dapat menambahkan khorida atau benzalkonium bromida.
2.4 Sterilisasi
Sterilisasi yaitu suatu proses atau kegiatan membebaskan bahan atau benda dari semua bentuk kehidupan. Sterilisasi juga dapat diartikan sebagai proses untuk membunuh semua jasad renik yang ada, sehingga jika ditumbuhkan di dalam suatu medium tidak ada lagi jasad renik yang dapat berkembang.
Pada prinsipnya sterilisasi dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu secara mekanik, fisik dan kimiawi. Sterilisasi mekanik dilakukan secara filtrasi, sterilisasi fisik dilakukan dengan pemanasan dan penyinaran, dan untuk sterilisasi kimiawi dapat dilakukan menggunakan senyawa disinfektan.
1.      Sterilisasi Mekanik
Sterilisasi mekanik, biasa dilakukan dengan filtrasi. Filtrasi disini menggunakan suatu saringan yang berpori kecil  sehingga mikroba dapat tertahan pada saringan tersebut. Ukuran nominal pori penyaring 0,2 μm atau kurang dan penyaring dibuat dari berbagai jenis bahan seperti selulosa asetat, selulosa nitrat, florokarbonat, polimer akrilik, polikarbonat, poliester, polivinil klorida, vinil, nilon, politef, dan berbagai tipe bahan lain termasuk memban logam.
2.      Sterilisasi Fisik
Pada sterilisasi fisik dapat dilakukan dengan 2 sistem, yaitu system pemanasan dan penyinaran. System pemanasan sendiri terdiri dari 4 macam, yaitu:
a.       Pemijaran (dengan api langsung)
Membakar alat pada api secara langsung, contoh alat : jarum inokulum, pinset, batang L, dll.
b.      Panas kering
Sterilisasi dengan oven kira-kira 60-1800C. Sterilisasi panas kering cocok untuk alat yang terbuat dari kaca misalnya erlenmeyer, tabung reaksi dll.
Prosedur Sterilisasi Panas Kering dengan Oven adalah sebagai berikut:
1) Membuka tutup oven dan masukkan peralatan dari gelas yang sudah dibungkus ke dalam oven.
2) Menutup oven dan mengatur pengontrol suhu pada angka 160-180°C selama 1-2 jam.
c.       Uap air panas
Konsep ini mirip dengan mengukus. Bahan yang mengandung air lebih tepat menggungakan metode ini supaya tidak terjadi dehidrasi.

d.      Sterilisasi panas dengan Tekanan atau Sterilisasi Uap (Autoklaf)
Pada saat melakukan sterilisasi uap, kita sebenarnya memaparkan uap jenuh pada tekanan tertentu selama waktu dan suhu tertentu pada suatu objek, sehingga terjadi pelepasan energi laten uap yang mengakibatkan pembunuhan mikroganisme secara ireversibel akibat denaturasi atau koagulasi sel.
Sterilisasi demikian merupakan metode yang paling efektif dan ideal karena:
1.      Uap merupakan pembawa (carrier) energi termal paling efektif dan semua lapisan pelindung luar mikroganisme dapat dilunakan, sehingga terjadinya koagulasi.
2.      Bersifat notoksik, mudah diperoleh, dan relatif mudah dikontrol.
Suhu jenuh uap air (1000C) pada tekanan 1 atmosfir teryata masih kurang dalam membunuh kuman yang resisten. Oleh karena itu, kita harus mengupayakan agar suhu jenuh uap ditingkatkan dengan cara meningkatkan tekanannya. Kemudian, kita dapat melakukannya dalam wadah tertutup rapat agar dapat tercapai suhu sterilisasi, yaitu 1210C atau lebih. Uap jenuh tidak dapat berkurang suhunya tanpa menurunkan tekanannya dan sebaliknya. Dengan demikian, apabila salah satu parameter yang lain pasti diketahui pula. Pada praktinya, saat uap memasuki chamber mesin sterilisasi, kondisi uap harus dalam keadaan baik.
Sterilisasi demikian bisa digunakan untuk mensterilisasikan:
Sedian injeksi dan suspensi     : 1210C 15 menit
Baju operasi                            : 1340C 3 menit
Plastik dan karet                     : disterilkan terpisah dari kontainer
Faktor-faktor yang mempengaruhi sterilisasi uap adalah:
a.       Waktu
Apabila mikroorganisme dalam jumlah besar dipaparkan terhadap uap jenuh pada suhu yang konstan, maka semua mikroorganisme tidak akan terbenuh pada saat bersamaan. Jumlah mikroganisme yang bertahan hidup dapat diplot terhadap waktu pemaparan dan akan menghasilkan kurva survivor (survivor curve). Terminilogi D-value digunakan untuk mendeskripsikan waktu yang diperlukan untuk membunuh 90% mikroorganisme yang ada. Setiap mikroorganisme akan mempuyai D-value yang berbeda dan tentunya D-value akan bergantung pada suhu.
Pengujian daya bunuh mesin sterilisasi biasa menggunakan bacillus stearothermophilus karena jenis mikroganisme ini paling resisten terhadap proses 6 nilai D-value untuk bacillus stearothermophillus sudah menjamin keamanan proses sterilisasi uap. Pada D-value pertama, jumlah mikroganisme yang terbunuh adalah 905, pada nilai D-value kedua jumlah mikroganisme yang terbunuh menjadi 99,95, dan seterusnya hingga pada nilai D-value keenam jumlah mikroganisme yang terbunuh menjadi 99,9999%.
b.      Suhu
Peningkatan suhu akan menurunkan waktu proses sterilisasi secara dramatis. Sebagai gambaran , waktu yang diperlukan untuk membunuh satu juta B.stearothermophillus pada suhu 115,60C adalah 42,6 menit, tetapi dengan menaikan suhu sampai 140,60C waktu yang dibutuhkan hanya 8 detik. Namun, hal ini tentu terjadi pada kondisi uap jenuh, sedangkan pada kondisi uap tidak jenuh mikroorganisme mungkin tidak akan terbunuh secara sempurna, walaupun suhu sterilisasi dinaikan.
Hubungan antara waktu dan suhu dalam proses sterilisasi menurut rumus sebagai berikut:
F = t1
c.       Kelembapan
Efek penambahan daya bunuh pada sterilisasi uap disebabkan kelembaban akan menurunkan suhu yang diperlukan agar terjadidenaturasi dan koagulasi protein. Di lain pihak, pada sistem panas kering mikroorganisme akan terhidrasi terlebih dahulu baru kemudian suhu akan naik agar terjadi denaturasi protein seluler. Adanya cairan dalam uap mengindikasikan istilah kualitas uap. Untuk proses sterilisasi uap berada 97%, maka dianggap uap tidak jenuh, sehingga daya bunuh mikroorganisme akan kurang.
3.    Sterilisasi Kimia
Sterilisasi secara kimiawi biasanya menggunakan senyawa disinfektan. Senyawa disinfektan yang biasa digunakan yaitu alcohol. Salah satu kegunaan dari alcohol ini adalah untuk sterlisasi area tempat kerja, adapun proses penggunaannya adalah sebagai berikut:
1)      Memasukkan larutan alkohol dengan kadar 70% ke dalam botol semprot.
Sterilisasi dengan bahan kimia digunakan alkohol 70 %. Menurut Gupte (1990), etil alkohol sangan efektif pada kadar 70 % daripada 100 % dan ini tidak membunuh spora. Sterilisasi dengan alkohol dilakukan pada proses pembuatan kultur stok dan teknik isolasi. Alkohol 70 % disemprotkan pada tangan praktikan dan alat-alat seperti makropipet dan mikropipet. Menurut Volk dan Wheeler (1988), alkohol bila digunakan pada kulit kontaknya terlalu pendek untuk menimbulkan banyak efek germisida dan alkohol segera menguap karena sifatnya mudah menguap. Namun alkohol dapat menyingkirkan minyak, partikel debu, dan bakteri. Menurut Gupte (1990), alkohol 70 % dapat menyebabkan denaturasi protein dan koagulaasi.
2)      Menyemprot udara di sekitar area kerja dengan alkohol tersebut.
3)    Menyemprot meja kerja dengan alkohol dan ratakan dengan kertas tissue.
4)      Menyemprot juga tangan kita agar steril.
5)      Meletakkan alat-alat yang akan digunakan pada meja kerja.
2.5 Perhitungan
Perhitungan yang di maksud disini adalah tonisitas dan kapasitas dapar karena dalam suatu larutan tetes mata tidak akan lepas dari perhitungan ini.
2.5.1 . Tonisitas
a. metode turunab titik beku
Turunya titik beku serum darah atau cairan lakrimal sebesar-0,520C yang setaradengan 0,9% NaCl. Makin besar kosentrasi zat terlarut makin besar turunya titik beku.
METODE I (BPC)           :          
W = Jumlah (g) bahan pembantu isotoni dalam 100 ml larutan
A = Turunnya titik beku air akibat zat terlarut, dihitung dengan
       memperbanyak nilai untuk larutan 1% b/v
b = Turunya titik beku air yang dihasilkanoleh 1% b/v bahan pembantu isotoni jika kosentrasi tidak dinyatakan, a=0  (titik ditambahkan pengisotonis)
METODE II                        :            
        Keterangan :
Tb = turunya titik beku larutan terhadap pelarut murninya
K = turunya titik beku pelarut dalam MOLAR (konstanta Kryoskopik air = 1,86 yang menunjukan turunya titik beku 1 mol zat terlarut dalam 1000 g cairan)
m = zat yang ditimbang (g)
n = jumlah ion
M = berta molekul zat terlarut
L = massa pelarut (g)

b. ekivelensi NaCl
Didefinisikan sebagai suatu faktor yang dikonversikan terhadap sejumlah tertentu zat terlarut terhadap jumlah NaCl yang memberikan efek osmotik yang sama. Misalnya ekivalensi NaCl asam borat 0,55 berati 1 g asam borat di dalam larutan memberikan jumlah partikel yang sama dengan 0,55g NaCl.
METODE WELLS:        
Keterrangan :
L = turunnya titik beku MOLOL
I = turunnya titik beku akibat zat terlarut (0C)
C = kosentrasi molal zat terlarut
Oleh karena itu zat aktif dengan tipe ionik yang sama dapat menyebabkan turunya titik beku molal yang sama besar, maka Wells mengatsinya dengan menggolongkan zat-zat tersebut menjadi beberapa kelompok sesuai dengan jumlah ion yang dihasilkan. Lihat tabel III di repetitorium teknologi sediaan steril, hal. 15.
c. metode Liso                     (Dikta Kuliah Steril, 166)
Rumus               Tf = Lisox
d.      Metode White –Vincent (Diklat kuliah steril hal, 167)
Tonisitas yang diinginkan ditentukan dengan penambahan air pada sediaan parenteral agar isotonis. Rumus yang dipakai :
V = w x E x 111,1
Dengan V = ekivelensi naCl
w = berat dalam garam
E = ekivalensi NaCl
Contoh
R/                Phenacaine hidroklorida   0,006 gr
               Asam borat                          0,30 gr
               Aqua bidestilata steril ad  100 ml
Maka : v = ((0,06 x 0,20) + (0.3 x 0,050)) x 111,1 ml = 18 ml
Jadi obat dicampur dengan air sampai 18 ml. Lalu tambah pelarut isotonis sampai 100 ml.
e.       Metode Sprowls (Dikta kuliah steril)
Menurut modifikasi dari metode White dan vincet, dimana  w dibuat tetap 0,3 gram, jadi V = E x 33,33 ml
2.5.2 Kapasitas dapar
Kapasitas dapar adalah kemampuan tidak berubahnya pH dengan penambahan sedikit asam atau sedikit basah.
Rumus :  β =  = 2,303 C
Β = kapasitas dapar
αB = perubahan kosentrasi asam atau basah
αpH = perubahan ph
C = kosentrasi molar larutan dapar
Ka = konstanta disosiasi larutan dapar
Kapasitas dapar dapat dihitung dengan pesamaan Henderson-hasselbach
2.6 Glukoma
Glaukoma adalah penyakit pada saraf utama mata, yang disebut saraf optik. Saraf optik menerima impuls saraf dari retina dan memancarkannya ke otak, di mana kita mengubah sinyal-sinyal listrik itu sebagai gambar. Glaukoma ditandai oleh kerusakan progresif pada saraf optik yang umumnya dimulai dengan kehilangan penglihatan samping halus (peripheral vision). Jika glaukoma tidak didiagnosis dan diobati maka dapat berkembang menjadi kehilangan penglihatan sentral dan kebutaan.
Glaukoma tetapi tidak selalu, berhubungan dengan tekanan tinggi di mata (tekanan intraokuler). Secara umum, tekanan mata tinggi ini mengarah ke kerusakan saraf mata (saraf optik). Dalam beberapa kasus, glaukoma dapat terjadi pada tekanan mata normal namun ada gangguan pengaturan aliran darah ke saraf optik.
Belum ada obat untuk glaukoma. Namun, obat atau operasi dapat memperlambat atau mencegah perkembangan kehilangan penglihatan. Pengobatan yang tepat tergantung pada jenis glaukoma dan faktor-faktor lainnya. Deteksi dini sangat penting untuk menghentikan perkembangan penyakit ini.
( http://kamuskesehatan.com/arti/glaukoma/)
2.7 Patofisiologi Glukoma
Peningkatan tekanan di dalam mata (intraocular pressure) adalah salah satu penyebabterjadinya kerusakan saraf mata (nervus opticus) dan menunjukkan adanya gangguan dengancairan di dalam mata yang terlalu berlebih. Ini bisa disebabkan oleh mata yang memproduksicairan terlalu berlebih, cairan tidak mengalir sebagaimana mestinya melalui fasilitas yang adauntuk keluar dari mata (jaringan trabecular meshwork) atau sudut yang terbentuk antarakornea dan iris dangkal atau tertutup sehingga menyumbat/ memblok pengaliran dari pada cairan mata.
Gambar patofisiologi glukoma

Minggu, 06 Mei 2012

Kanker mulut rahim (kanker serviks)

Kanker mulut rahim adalah suatu keadaan dimana sel mulut ramih mengalami ketidak normalan karena terjadi kerusakan/kelainan pada sel, bisa disebabkan oleh virus atau mutasi dan masih banyak lagi penyebabnya. Secara anatomi  reproduksi wanita dibagi menjadi dua bagian, yaitu : bagian yang terlihat dari luar ( genitalia eksterna ) dan bagian yang berada di dalam panggul ( genitalia interna ).
Rahim termasuk reproduksi bagian di dalam panggul, yang mempuyai panjang 5 sampai 8 sentimeter, dan beratnya 30 sampai 60 gram. Rahim berbentuk seperti buah pir gepeng, berukuran panjang B-9 cm. Letaknya terdapat di belakang/atas kandung kencing dan didepan/bawah saluran pelepasan. Dindingnya terdiri dari dua lapisan Mot yang teranyam saling metintang. Lapisan dinding rahim yang terdalam disebut endometrium, merupakan lapisan setaput lendir. Kanker mulut rahim berda pada di antara rahim dan vagina lebih tepanya perbatasan antara rongga rahim dan vagina (yang menghubungkan alat kelamin dan rahim).
     Peyebab kanker mulut rahim yang paling utama disebabkan oleh virus HPV (Human Papilloma Virus). Virus ini tak hanya menyerang kaum perempuan. Virus ini juga mengintai para pria, meski efeknya tak seganas saat menyerang perempuan, pria bisa menjadi pembawa dan menularkannya.

PATOFISIOLOGI
Virus minfeksi mulut rahim --> mutasi sel di daerah tersebut --> berkembang menjadi sel kanker --> menimbulkan kerusakan, dan menyebar ke organ tubuh lainnya. Diket > 40 macam virus, yang berhubungan dengan kanker mulut rahim al HPV 16, 18, 45, 31. Di Indonesia teserang gol HPV 18.

FAKTOR RISIKO
Fakor resiko disini bukan berati bahwah orang yang melakukan atau berada dalam lingkungan faktor reseiko berati diya terkena kanker mulut rahim atau penyebabnya adalah salah satu faktor resiko itu. Faktor resiko adalah  suatu keadaan dimana orang yang dekat dengan faktor resiko itu lebih besar akan terkena kanker mulut rahim dibandingkan dengan orang biyasa. Beberapa faktor resiko yang bisa menyebabkan kanker mulut rahim diantaranya :

• Aktivitas seksual sebelum usia 20 tahun.
• Banyak pasangan seksual.
• Terpapar Infeksi menular seksual (IMS).
• Riwayat keluarga dengan kanker serviks.
• Hasil Pap smear sebelumnya yang tak normal.
• Merokok.
• Penurunan daya tahan tubuh.
• Mengidap HIV/AIDS
• Penggunaan corticosteroid kronis.

GEJALA KANKER MULUT RAHIM
Gejala yang diperlihatkan pada awal, penyakit ini tidak menunjukan gejala yang khas sehinga mudah untuk diamati. Tapi pada penderita stadium lanjut pada umumumnya terdapat beberapa gejala yang harus segera dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Gejala-gejala kanker mulut rahim tingkat lanjut:
·         Keputihan yang berlebihan (abnormal).
·         Sering terjadi pendarahan di luar siklus menstruasi.
·         Rasa sakit saat bersenggama.
·         Nyeri perut bawah, panggul dan punggung.
·         Pebengkakan kaki.

Karena gejala yang dapat terlihat pada stadium lanjut, sehinga kebanyakan penderita menyadari bahwa dirinya terjangkit kanker mulut rahim dalam kondisi yang cukup parah. Oleh kerana itu jika diantara kita mengalami gejala stadium lanjut seperti di atas haru secepat mungkin diperiksakan pada tenaga medis.

PENCEGAHAN
Pencegahan kaker mulut rahim dapat di bagi menjadi tiga yaitu :
1.Pencegahan Primer
·         KIE menghindari perilaku seksual yang berisiko tinggi
·         Assessment Faktor Risiko
·          Immunisasi HPV
2. Pencegahan Sekunder
·         Mdentifikasi & mTx lesi pra-kanker sebelum berkembang menjadi Ca
·         Penemuan & tatalaksana kanker stadium awal
3. Pencegahan Tertier
·         Penemuan & tatalaksana kanker stadium lanjut.

Untuk pencegahan yang paling baik, sebainya dilakukan pencegahan primer berupa immunisasi HPV karena penyebab kanker mulut rahim adalah virus HPV. Seperti halnya imunisasi pada balita dengan tujuan untuk mencegah terjadinya polio, Dengan cara kerja memberikan kekebalan pada tubuh untuk melawan virus polio sehingga diharapkan sang balita kebal oleh virus (tidak sakit). Sama halnya pada imunisai HPV, tujuanya juga untuk memberikan kekebalan pada tubuh jika pada suatu saat terserang virus HPV maka tubuh dengan mudah mengatsinya.

DETEKSI KANKER  SERVIKS
1.      IVA (Inspeksi Visual dg Asam asetat)
Merupakan cara sederhana untuk mendeteksi kanker leher rahim sedini mungkin. Dengan metode inspeksi visual yang lebih mudah, lebih sederhana, lebih mampu dilaksana, maka skrining dapat dilakukan dengan cakupan lebih luas. Dalam pelaksaan IVA jika tida ada perubahan warna atau tida muncul plak putih maka hasil pemeriksaan diinyatakan negatif. Sebaliknya, jika mulut leher rahim berubah warna menjadi merah dan timbul plak putih, maka dinyatakan positif lesi atau kelainan prakanker. IVA sudah bisa dilaksanakan ditingkatan puskemas-puskemas dan lebih terjaungkau dari yang lainya.
2.      Papsmear
Pap Test(Pap Smear) adalah pemeriksaan usapan pada leher rahimuntuk mengetahui adanya perubahan sel-sel yang abnormal yang diperiksa dibawah mikroskop.
3.      Thin prep
Merupakan metode berbasis cairan yang lebih akurat dibanding Pap smear.  Metode ini memiliki beberapa kelebihan bila dibandingkan dengan papsmear seperti pengambilan sampel serviks yang lebih baik dan diagnosis lebih akan lebih tepat.
4.      Kolposkopi
Jika semua hasil tes pada metode sebelumnya menunjukkan adanya infeksi atau kejanggalan, prosedur kolposkopi akan dilakukan dengan menggunakan alat yang dilengkapi lensa pembesar untuk mengamati bagian yang terinfeksi. Tujuannya untuk menentukan apakah ada lesi atau jaringan yang tidak normal pada serviks atau leher rahim. Jika ada yang tidak normal, biopsi — pengambilan sejumlah kecil jaringan dari tubuh — dilakukan dan pengobatan untuk kanker serviks segera dimulai.

CARA PENULARAN KANKER SERVIKS
Penularan virus HPV salah satunya bisa melalui hubungan seksual, terutama yang dilakukan dengan berganti-ganti pasangan. Tetapi juga dapat terjadi meski tidak melalui hubungan seksual oleh karena itu hubungan seksual bukan satu-satunya cara penularan kanker mulut rahim.

TERAPI KANKER MULUT RAHIM
Terapi secara umum untuk medik dibagi menjadi tiga, yaitu operasi, radioterapi, dan kemoterapi. Sehingga dalam penangananya kasus kaker mulut rahim disesuaikan dengan stadiumnya, seperti di bawah ini :
·         Stadium O atau lesi prakanker diobati dengan tindakan lokal.
·         Stadium 1, dibagi A dan B, operasi. Stadium 2A masih dioperasi,
·         Stadium 2B sebaiknya radiasi dibantu kemoterapi.
·         Stadium 3 dan 4 stadium lanjut A dan B, biasanya radiasi dibantu kemoterapi.

CATATAN YANG SANGAT PENTING

Kanker mulut rahim adalah suatu penyakit yang sangat  berbeda dengan HIV/AID, sehinga sewajarnya kita tidak perlu berperasangka burung. Jika kita berada diposisi, sebagai seorang suami yang mempuyai istri penderita kanker mulut rahim alangkah baiknya kita berintropeksi diri dan tidak meyalahkan istri. Jagan pernah menghardik istri karena bisa saja kita mengambil peranan dalam penyakit yang dideritanya. Sudah dijelaskan diatas bahwa salah satu cara penularan kanker mulut rahim adalah melalui hubungan seksual, maka sangat wajar bila kita bisa menularkan pada istri kita. Terus kenapa laki-laki sebagai salah satu pembawa virus HPV tidak sakit? Jawabannya karena virus yang kita bawa itu tidak aktif dan hanya aktif pada wanita.
Setiap wanita yang melakukan hubungan seksual kemungkinan besar bisa saja terkena virus HPV, walau dengan suami. Perkembangan virus HPV untuk menjadi kanker mulut rahim membutuhkan waktu yang sangat lama (bertahun-tahun bahkan bisa berpulu-puluh tahun). Perlu kearifan sebagai seorang suami dalam menyikapi masalah ini, dan sebagai selalu setiap mendampingi istri. Sedangkan untuk istri jagan kuatir, tidak bisa melayani suami sebab masih bisa melakukan hubungan suami istri walau terkena kaker mulut rahim (konsultasikan pada dokter atau tenaga medis yang berkompen-lainya)

Karena penyakit kanker mulut rahim disebabkan oleh virus HPV, maka dari itu tidak sepenuhnya benar kalo kaker mulut rahim dikatakan sebagai penyakit keturunan.

Saya sarankan untuk pengobatan kanker mulut rahim yang terbaik adalah mengunakan kombinasi dari ilmu kedokteran, terapi dan obat herbal. Kenapa saya sarankan seperti ini?, ini dikarenakan supaya didapatkan penyembuhan yang maksimal dll(tidak bisa saya berikan alasan-nya disini).

Rabu, 25 Januari 2012

jantung


Jantung merupakan organ pemompa yang besar yang memelihara peredaran darah dalam tubuh. Ukurann jantung kira-kira sebesar kepalan tangan. Jantung dewasa beratnya antara 220 samapi 260 gram. Jantung sangat penting bagi tubuh kita karena jantung adalah organ yang bertugas memompa darah ke seluruh tubuh.
Pada orang yang sedang istirahat jantungnya berdebar 70 kali semenit dan memompa 70 ml setiap denyut  (volume denyutan adalah 70 ml). Jumalah darah yang setiap menit dipompa dengan demikian adalah 70 x 70 ml atau sekitar 5 liter.
Sewaktu banyak bergerak kecepatan jantung dapat menjadi 150 setiap menit dan volume denyut lebih dari 150 ml, yang membuat daya pompa jantung 20 sampai 25 liter setiap menit.
Organ fital kita ini tidak lepas dari serangan penyakit dan keadaan berbahaya. Bagi kehidupan manusai jantung sangatlah penting sehingga penyakit yang ada di jantung seringkali mengakibatkan kematian. Kematiaan yang disebakan oleh tidak berfunsinya jantung, selalau menduduki peringkat atas.
Pengertian penyakit jantung dan serangan jantung berbeda. Serangan jantung adalah sebuah kondisi yang menyebabkan jantung sama sekali tidak berfungsi. Kondisi ini biasanya terjadi mendadak, dan sering disebut gagal jantung. Sedangkan Pengertian penyakit jantung sendiri yaitu penyakit yang terjadi pada jantung akibat adanya gangguan kinerja jantung untuk memompa darah.

Beberapa pengertian :
1.      Atherosclerosis adalah gangguan pembuluh yang disebkan karena menebal dan mengerasnya dinding pembuluh nadi (arteri) besar dan sedang. Hal ini diakibatkan oleh endapan dari kolesterol, lemak, kalsium dan fibrian (plak) di dinding pembuluh.
2.      Hipertensi  adalah tingginya tekanan darah yang berhubungan dengan pengerasan/penebalan pembulu darah.
3.      Angina pictoris adalah penyakit jantung ateri otak tersumbat sama sekalih, maka timbul infark jantung atau infark otak (stroke)
4.      Kalau jantung tidak sanggup lagi memelihara peredaran darah selayaknya, makan akan timbul gagal jantung (dekompensasi)
Obat Jantung
Obat jantung adalh obat yang secara lasung memulihkan fungsi otot jantung yang terganggu ke  keadaan normal.
Gangguan-gangguan jantung
a.       Infark jantung
Infark jantung atau trombiss koroner, umumnya disebut serangan jantung, adalah keadaan tersumbatnya suatu cabang pembuluh jantung yang menyalurkan darah ke jantung oleh gumpalan darah beku (trombus). Gejala berupa nyeri yang hebat dibelakang tulangdada, rasa gelisa, tidak mampu mengerakkan tangan dan kaki, muka membiru dan debar jantung (tachycardia)
b.      Angina pectoris
Angina pectoris adalah gangguan kelelahan yang timbul sebagai akibat hypoxia (kekurangan oksigen) otot jantung karena kelelahan fisik atau emosional dan dapat juga disebabkan oleh penciutan arteri jantung, infark, kejang-kejang atau adanya tachycardia tertentu, anemia hebat atau penciutan aorta. Gejalanya adalah rasa sakit hebat di bawah tulang dada yang menjalar ke pindak kiri dan lengan bagian atas, terutama bila berjalan atau sesudahnya ; nyeri tersebut akan hilang bila berhenti dan istirahat.
Tindakan umum unuk mengurangi serangan angina adalah berupa tindakan :
-          Tidak merokok (karena merokok dapat menciutkan pembuluh) dan diet (kolesterol dan lemak).
-          Menghindari beban fisik maupun mental.
-          Berolah rag, sekurang-kurangnya jalan kaki selama 1 jam sehari guna memperbaiki sirkulasi di jantung .
-          Mengobati hipertensi.
c.       Arimia
Adalah ganguan ritme berupa keluhan dalam frekwensi (kecepatan) denyut jantung karena serambi (atrium) dan bilik (venterikel) berdenyut lebi cepat (tacycardia0 atau lebih lambat (bradycardia) dari normal. Dapat pula karena terjadinya kekacauan dalam ritme (irama) denyut jantung, misalnya vibrasi (flutter), getaran 9fibrilasi) ataupun extrasistole. Heartblock merupakan suatu jenis aritmia yang disebabkan oleh gangguan penyaluranlistrik dari serambi kanan ke bilik kiri. Terapinya adalah dengan pacemaker, yaitu suatu alat kecil yang dapat mengirimkan impuls-implus listrik ke jantung guna menormalisir frewensi kontraksinya.
d.      Dekompenasi jantung
Adalah keadaan dimana sirkulasi darah jantung dan cardiac output menurun, misalnya akibat infark atau katup-katup jantung yang tidak bekerja sempurna, atau karena proses penuaan. Gejalanya adalah sukar bernafas bila berbaring (dyspnea0, muka membiru (cyanosis), dan oedema.
e.       Shock
Adalah salah satu komplikasi dari infark jantung yang sangat ditakuti karena biasanya berakibat fatal. Sebenarnya adalah tachycardia yang hebat, myocarditis dan sebagainya.

Pengolongan Obat jantung
(a) Kardiotonika
Yaitu glikosida-glikosida jantung, yang berkhasiat mempertinggi kontraktilitas jantung hingga cardiac ouput (volume menitnya) bertambah, sedangkan denyutnya dikurani (efek chronotrop negatif). Disamping itu glikosida jantung ini juga merintangi system penyaluran A-V (atrioventikuler, yakni dari serambi ke bilik) hingga penyaluran tersebut di perlambat. Kegunaan utamnya adalah pada kelemahan otot janyung (mycard) yang terjadi pada dekompensasi dan fibrilasi serambi.
Termasukkedalam golongan obat ini adalah :
(1)   Digitalsi folium
Merupakan prepat galenik, berupa tictura digitalis, yang diperoleh daridigitalis pupurae dan digitalis lanata. Daun digitalis mengandung dua glikosida yaitu lanatosida A dan lanatosida B. sedangkan digitalis lanata mengandung zat ke tiga, yaitu lanatosida C.
Pada terapi dengan digitalis dikenal dua jenis dosis, yaitu dosis digitalis (selama 1-6 hari pertama) dan dosis pemeliharaan. Dosis ini sangat individual zat tergantung pada kepekaan seseorang terhadap glikosida jantung.
(2)   Digoksin
Zat ini mulai bekerja setelah 2-4 jam dan bertahan sampai 3 hari. Umumnya diberikan per oral. Dalam hati mengalami biotransformasi menjadi metabolit –metabolit ini aktif yang dikeluarkan oleh ginjal. Kinidin dapat memperlambat eliminasi digoksin, sehingga dosinya perlu dikurangi hingga setengahnya bila kedua obat ini digunkan secara bersamaan.
(3)   Digitosin
Zat ini terutama digunkan pada terapi menahun dari dari dekompensasi. Mulai kerjanya setelah 1 jam dan bertahan 2-3 minggu. Oleh karena itu bahaya kumulasi lebih besar. Dalam hati diubah menjadi beberapa metabolit aktif, antara lain digoksin, yang dengan perlahan diekskresi oleh ginjal. Disamping itu juga mengalami siklus eterohepatik, yang lebih besar dari pada digoksin.
(4)   Quabain
Glikosida ini diperoleh dari biji tumbuhan Stophatus gartus. Muali bekerjanya setelah injeksi i.v, adalah lebih kurang 5 menit dan bertahan lebih kurang 24 jam. Zat ini tidak mengalami biotransformasi dan dikeluwarkan dalam keadaan utuh oleh ginjal. Juga tidak mengalami siklus eterohepatik, sehingga kemungkinan kumulasi kecil.
(5)   Proscilaridin
Zat ini diperoleh dari glikosida scillaren A yan terdapat dalam umbi tumbuhan scilla maritime. Disamping berkhasiat sebagai kardiotonik, zat ini juga bersifat diuretic. Mulai bekerja setelah penggunaan oral adalah lebih kurang satu jam, lama kerjanya relative singakat, sehingga resikumulasi ringan.

(b) Obat-obat Angina pectoris
Keadaan kekurangan dara (ischemia0 pada angina pectoris dapat diobati dengan vasodilator-vasodilator arteri jantung kebutuhan jantung akan oksigen.Diobati dengan :
·         Vasodilator koroner
Memperlebar arteri jantung, mempelancar pemasukan darah berserta oksigen, sehinggga meringankan beben jantung. Obat pilihan utama unutk serangan akut adalah nitrogliserin. Obat lainya adalah Dipiridamol, ISN.
·         Antangonis-antagonis kalsium
Kalsium merupakan elemen ensensial bagi fungsi mycord dan otot polos dinding arteriole-arteriole menciut (vasokostraksi). Antagonis kalsium menghambat pemasukan kalium ke dalam sel-sel mycord dan otot polos dinding arteri, sehingga dapat mencegah kontraksi dan vasokonriksi. Termasuk ke dalam antagonis kalsium antar lain nifedipin, Diltiazem, Verapamil.
·         Beta blockers
Pada reseptor β1 di jantung, berefek inotrop negative dan efek kronotrop positif, yaitu mengurangi daya dan frekwensi kontraksi jantung, serta memperlambat penyaluran impuls pada nosus AV.
Sedangkan pada reseptor β2 di bronchi (juga dinding pembuluh dan usus), yaitu memberikan efek vasokonstriktor. Semua β – blockers dapat digunakan unuk mengobati angina pictoris, tachy aritmia, hipertensi, infark jantung. Efek samping dari obat golongan ini adalah:
1.      Dekompensasi jantung, akibat bradcardia, dengan gejala sesak napas.
2.      Bronchokonstriksi dengan gejala sesak napas dan serangan serupa asma
3.     Perasaan dingin (pada jari kaki – tangan) dan terasa lemah 9akibat berkurangnya sirkulasi perifer dan oksigen di otot)
4.      Hipoglikemia
5.     Efek sentral seperti gangguan tidur dengan mimpin – mmpin ganjil (nigthtmare0, lesu, bahkan depresi dan halusinasi.
6.      Gangguan lambung dan usus seperti mual, muntah, diare
7.      Penurunan HDL-kolesterol.
                Tergolong obat ini antara lain propanolol, acebutonol.
(c) Antiartimia
Adalah obat – oabat yang dapat menormalisasi frekwensi dan ritme pukulan jantung. Disamping menurunkan frkwensi denyutan jantung (efek chronotrop negetif), umunya obat – obat ini juga mengurangi daya kontraksi jantung (efek inotrop positif). Berdasarkan mekanisme kerjanya, pengobatan artimia dibagi 4 golongan yaitu :
·         Zat –  zat dengan daya anestika local, disebut juga efek kinidin atau efek stabilisasi membrane. Zat ini mengurangi kepekaan membrane sel-sel jantung untuk rngsangan dengan jalan menghambat pemasukan ion natrium di membrane dan memperlambat depolarisasinya. Akibatnya ritme dan frekwensi jantung menjadi normal kembali. Termasuk zat ini adalah kelompok kinidin dan lidokain.
·         Zat perintang reseptor β adrenergic atau beta blockers, yang mengurangi aktivitas saraf adrenegik di otot jantung, sehingga frekwensi dan daya konstraksi jantung menurun. Contohnya timolol dan Propanolol.
·         Zat yang memperpanajang masa refrakter, dengan jalan memperpanjang aksi potensial. Contohnya Amiodaron dan Satalol.
·         Antagonis kalsium, contohnya Verapamil, Nifedipin, Diltiazem.
Contoh  obat jantung :
DIGOKSIN
Mekanisme kerja
1.      Meningkatkan kontraklititas otot jantung.
2.      Melepaskan cadangan ion Ca dari reticulum sarkoplasmik.
3.   Mempengarui aktivitas saraf otonom dan sensivitas jantung terhadap neurotransmitter saraf tersebut.
4.      Efek lasung pada serabut purkiye, nodus AV dan SA.

Indikasi
Gagal jantung, fibrilasi atau fluuter atrium, takikardia paroksimal.

Kontra indikasi:
Sindrom Wolf-Parkinson white, MCL.

Efek samping
Mual, rasa lelah, gangguan penglihatan, bigung, gangguan denyut jantung.

Interaksi obat
Hipokalemia bertambah berat jika diberikan bersama diuretik. Meningkatkan kadar antagonis kalsium, litium dan kuinidin dalam darah.

Dosis
Oral: 0,75-1,5 mg/hari

LANATOSID

Mekanisme kerja:
1.      Meningkatkan kontraklitilitas otot jantung.
2.      Melepaskan cadangan ion Ca dari reticulum sarkoplasmik.
3.      Efek lasung pada serabut purkiye nodus AV dan SA.
4.    Mempengaruhi aktifitas saraf otonom dan sensivitas jantung terhadap neurotransmitter saraf tersebut.
Indikasi:
Gagal jantung, fibrilitas atau flutter atrium, takikardia.

Kontraindikasi:
Miokard infark, sindromWolf-parkison white.

Efek samping:
Mual, rasa lelah, gangguan penglihatan bigung, gangguan denyut jantung.

Interaksi oba;
Hiplokalemia bertambah berat bila diberikan bersamaan diuretika. Meningkatkan kadar antagonis kalsium, litium, kuinidin dalam darah.

Dosis;
Im atau IV: 0,4 mg/2L.

Catatan:
1.Debaran jantung adalah pukulan ventrikel kiri kepada dinding anterior yang terjadi selama kontraksi ventrikel.
2.Kecepatan normal denyutnadi (jumlah debaran setiap menit)
Pada bayi yang baru lahir                 140 pada umur 5 tahun 96-100
Selama tahun pertama                      120 pada umur 10 tahun 80-90
Selama tahun kedua                         110 pada orang dewasa 60-80