Sabtu, 05 Mei 2012

Kanker mulut rahim (kanker serviks)

Kanker mulut rahim adalah suatu keadaan dimana sel mulut ramih mengalami ketidak normalan karena terjadi kerusakan/kelainan pada sel, bisa disebabkan oleh virus atau mutasi dan masih banyak lagi penyebabnya. Secara anatomi  reproduksi wanita dibagi menjadi dua bagian, yaitu : bagian yang terlihat dari luar ( genitalia eksterna ) dan bagian yang berada di dalam panggul ( genitalia interna ).
Rahim termasuk reproduksi bagian di dalam panggul, yang mempuyai panjang 5 sampai 8 sentimeter, dan beratnya 30 sampai 60 gram. Rahim berbentuk seperti buah pir gepeng, berukuran panjang B-9 cm. Letaknya terdapat di belakang/atas kandung kencing dan didepan/bawah saluran pelepasan. Dindingnya terdiri dari dua lapisan Mot yang teranyam saling metintang. Lapisan dinding rahim yang terdalam disebut endometrium, merupakan lapisan setaput lendir. Kanker mulut rahim berda pada di antara rahim dan vagina lebih tepanya perbatasan antara rongga rahim dan vagina (yang menghubungkan alat kelamin dan rahim).
     Peyebab kanker mulut rahim yang paling utama disebabkan oleh virus HPV (Human Papilloma Virus). Virus ini tak hanya menyerang kaum perempuan. Virus ini juga mengintai para pria, meski efeknya tak seganas saat menyerang perempuan, pria bisa menjadi pembawa dan menularkannya.

PATOFISIOLOGI
Virus minfeksi mulut rahim --> mutasi sel di daerah tersebut --> berkembang menjadi sel kanker --> menimbulkan kerusakan, dan menyebar ke organ tubuh lainnya. Diket > 40 macam virus, yang berhubungan dengan kanker mulut rahim al HPV 16, 18, 45, 31. Di Indonesia teserang gol HPV 18.

FAKTOR RISIKO
Fakor resiko disini bukan berati bahwah orang yang melakukan atau berada dalam lingkungan faktor reseiko berati diya terkena kanker mulut rahim atau penyebabnya adalah salah satu faktor resiko itu. Faktor resiko adalah  suatu keadaan dimana orang yang dekat dengan faktor resiko itu lebih besar akan terkena kanker mulut rahim dibandingkan dengan orang biyasa. Beberapa faktor resiko yang bisa menyebabkan kanker mulut rahim diantaranya :

• Aktivitas seksual sebelum usia 20 tahun.
• Banyak pasangan seksual.
• Terpapar Infeksi menular seksual (IMS).
• Riwayat keluarga dengan kanker serviks.
• Hasil Pap smear sebelumnya yang tak normal.
• Merokok.
• Penurunan daya tahan tubuh.
• Mengidap HIV/AIDS
• Penggunaan corticosteroid kronis.

GEJALA KANKER MULUT RAHIM
Gejala yang diperlihatkan pada awal, penyakit ini tidak menunjukan gejala yang khas sehinga mudah untuk diamati. Tapi pada penderita stadium lanjut pada umumumnya terdapat beberapa gejala yang harus segera dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Gejala-gejala kanker mulut rahim tingkat lanjut:
·         Keputihan yang berlebihan (abnormal).
·         Sering terjadi pendarahan di luar siklus menstruasi.
·         Rasa sakit saat bersenggama.
·         Nyeri perut bawah, panggul dan punggung.
·         Pebengkakan kaki.

Karena gejala yang dapat terlihat pada stadium lanjut, sehinga kebanyakan penderita menyadari bahwa dirinya terjangkit kanker mulut rahim dalam kondisi yang cukup parah. Oleh kerana itu jika diantara kita mengalami gejala stadium lanjut seperti di atas haru secepat mungkin diperiksakan pada tenaga medis.

PENCEGAHAN
Pencegahan kaker mulut rahim dapat di bagi menjadi tiga yaitu :
1.Pencegahan Primer
·         KIE menghindari perilaku seksual yang berisiko tinggi
·         Assessment Faktor Risiko
·          Immunisasi HPV
2. Pencegahan Sekunder
·         Mdentifikasi & mTx lesi pra-kanker sebelum berkembang menjadi Ca
·         Penemuan & tatalaksana kanker stadium awal
3. Pencegahan Tertier
·         Penemuan & tatalaksana kanker stadium lanjut.

Untuk pencegahan yang paling baik, sebainya dilakukan pencegahan primer berupa immunisasi HPV karena penyebab kanker mulut rahim adalah virus HPV. Seperti halnya imunisasi pada balita dengan tujuan untuk mencegah terjadinya polio, Dengan cara kerja memberikan kekebalan pada tubuh untuk melawan virus polio sehingga diharapkan sang balita kebal oleh virus (tidak sakit). Sama halnya pada imunisai HPV, tujuanya juga untuk memberikan kekebalan pada tubuh jika pada suatu saat terserang virus HPV maka tubuh dengan mudah mengatsinya.

DETEKSI KANKER  SERVIKS
1.      IVA (Inspeksi Visual dg Asam asetat)
Merupakan cara sederhana untuk mendeteksi kanker leher rahim sedini mungkin. Dengan metode inspeksi visual yang lebih mudah, lebih sederhana, lebih mampu dilaksana, maka skrining dapat dilakukan dengan cakupan lebih luas. Dalam pelaksaan IVA jika tida ada perubahan warna atau tida muncul plak putih maka hasil pemeriksaan diinyatakan negatif. Sebaliknya, jika mulut leher rahim berubah warna menjadi merah dan timbul plak putih, maka dinyatakan positif lesi atau kelainan prakanker. IVA sudah bisa dilaksanakan ditingkatan puskemas-puskemas dan lebih terjaungkau dari yang lainya.
2.      Papsmear
Pap Test(Pap Smear) adalah pemeriksaan usapan pada leher rahimuntuk mengetahui adanya perubahan sel-sel yang abnormal yang diperiksa dibawah mikroskop.
3.      Thin prep
Merupakan metode berbasis cairan yang lebih akurat dibanding Pap smear.  Metode ini memiliki beberapa kelebihan bila dibandingkan dengan papsmear seperti pengambilan sampel serviks yang lebih baik dan diagnosis lebih akan lebih tepat.
4.      Kolposkopi
Jika semua hasil tes pada metode sebelumnya menunjukkan adanya infeksi atau kejanggalan, prosedur kolposkopi akan dilakukan dengan menggunakan alat yang dilengkapi lensa pembesar untuk mengamati bagian yang terinfeksi. Tujuannya untuk menentukan apakah ada lesi atau jaringan yang tidak normal pada serviks atau leher rahim. Jika ada yang tidak normal, biopsi — pengambilan sejumlah kecil jaringan dari tubuh — dilakukan dan pengobatan untuk kanker serviks segera dimulai.

CARA PENULARAN KANKER SERVIKS
Penularan virus HPV salah satunya bisa melalui hubungan seksual, terutama yang dilakukan dengan berganti-ganti pasangan. Tetapi juga dapat terjadi meski tidak melalui hubungan seksual oleh karena itu hubungan seksual bukan satu-satunya cara penularan kanker mulut rahim.

TERAPI KANKER MULUT RAHIM
Terapi secara umum untuk medik dibagi menjadi tiga, yaitu operasi, radioterapi, dan kemoterapi. Sehingga dalam penangananya kasus kaker mulut rahim disesuaikan dengan stadiumnya, seperti di bawah ini :
·         Stadium O atau lesi prakanker diobati dengan tindakan lokal.
·         Stadium 1, dibagi A dan B, operasi. Stadium 2A masih dioperasi,
·         Stadium 2B sebaiknya radiasi dibantu kemoterapi.
·         Stadium 3 dan 4 stadium lanjut A dan B, biasanya radiasi dibantu kemoterapi.

CATATAN YANG SANGAT PENTING

Kanker mulut rahim adalah suatu penyakit yang sangat  berbeda dengan HIV/AID, sehinga sewajarnya kita tidak perlu berperasangka burung. Jika kita berada diposisi, sebagai seorang suami yang mempuyai istri penderita kanker mulut rahim alangkah baiknya kita berintropeksi diri dan tidak meyalahkan istri. Jagan pernah menghardik istri karena bisa saja kita mengambil peranan dalam penyakit yang dideritanya. Sudah dijelaskan diatas bahwa salah satu cara penularan kanker mulut rahim adalah melalui hubungan seksual, maka sangat wajar bila kita bisa menularkan pada istri kita. Terus kenapa laki-laki sebagai salah satu pembawa virus HPV tidak sakit? Jawabannya karena virus yang kita bawa itu tidak aktif dan hanya aktif pada wanita.
Setiap wanita yang melakukan hubungan seksual kemungkinan besar bisa saja terkena virus HPV, walau dengan suami. Perkembangan virus HPV untuk menjadi kanker mulut rahim membutuhkan waktu yang sangat lama (bertahun-tahun bahkan bisa berpulu-puluh tahun). Perlu kearifan sebagai seorang suami dalam menyikapi masalah ini, dan sebagai selalu setiap mendampingi istri. Sedangkan untuk istri jagan kuatir, tidak bisa melayani suami sebab masih bisa melakukan hubungan suami istri walau terkena kaker mulut rahim (konsultasikan pada dokter atau tenaga medis yang berkompen-lainya)

Karena penyakit kanker mulut rahim disebabkan oleh virus HPV, maka dari itu tidak sepenuhnya benar kalo kaker mulut rahim dikatakan sebagai penyakit keturunan.

Saya sarankan untuk pengobatan kanker mulut rahim yang terbaik adalah mengunakan kombinasi dari ilmu kedokteran, terapi dan obat herbal. Kenapa saya sarankan seperti ini?, ini dikarenakan supaya didapatkan penyembuhan yang maksimal dll(tidak bisa saya berikan alasan-nya disini).

Selasa, 24 Januari 2012

jantung


Jantung merupakan organ pemompa yang besar yang memelihara peredaran darah dalam tubuh. Ukurann jantung kira-kira sebesar kepalan tangan. Jantung dewasa beratnya antara 220 samapi 260 gram. Jantung sangat penting bagi tubuh kita karena jantung adalah organ yang bertugas memompa darah ke seluruh tubuh.
Pada orang yang sedang istirahat jantungnya berdebar 70 kali semenit dan memompa 70 ml setiap denyut  (volume denyutan adalah 70 ml). Jumalah darah yang setiap menit dipompa dengan demikian adalah 70 x 70 ml atau sekitar 5 liter.
Sewaktu banyak bergerak kecepatan jantung dapat menjadi 150 setiap menit dan volume denyut lebih dari 150 ml, yang membuat daya pompa jantung 20 sampai 25 liter setiap menit.
Organ fital kita ini tidak lepas dari serangan penyakit dan keadaan berbahaya. Bagi kehidupan manusai jantung sangatlah penting sehingga penyakit yang ada di jantung seringkali mengakibatkan kematian. Kematiaan yang disebakan oleh tidak berfunsinya jantung, selalau menduduki peringkat atas.
Pengertian penyakit jantung dan serangan jantung berbeda. Serangan jantung adalah sebuah kondisi yang menyebabkan jantung sama sekali tidak berfungsi. Kondisi ini biasanya terjadi mendadak, dan sering disebut gagal jantung. Sedangkan Pengertian penyakit jantung sendiri yaitu penyakit yang terjadi pada jantung akibat adanya gangguan kinerja jantung untuk memompa darah.

Beberapa pengertian :
1.      Atherosclerosis adalah gangguan pembuluh yang disebkan karena menebal dan mengerasnya dinding pembuluh nadi (arteri) besar dan sedang. Hal ini diakibatkan oleh endapan dari kolesterol, lemak, kalsium dan fibrian (plak) di dinding pembuluh.
2.      Hipertensi  adalah tingginya tekanan darah yang berhubungan dengan pengerasan/penebalan pembulu darah.
3.      Angina pictoris adalah penyakit jantung ateri otak tersumbat sama sekalih, maka timbul infark jantung atau infark otak (stroke)
4.      Kalau jantung tidak sanggup lagi memelihara peredaran darah selayaknya, makan akan timbul gagal jantung (dekompensasi)
Obat Jantung
Obat jantung adalh obat yang secara lasung memulihkan fungsi otot jantung yang terganggu ke  keadaan normal.
Gangguan-gangguan jantung
a.       Infark jantung
Infark jantung atau trombiss koroner, umumnya disebut serangan jantung, adalah keadaan tersumbatnya suatu cabang pembuluh jantung yang menyalurkan darah ke jantung oleh gumpalan darah beku (trombus). Gejala berupa nyeri yang hebat dibelakang tulangdada, rasa gelisa, tidak mampu mengerakkan tangan dan kaki, muka membiru dan debar jantung (tachycardia)
b.      Angina pectoris
Angina pectoris adalah gangguan kelelahan yang timbul sebagai akibat hypoxia (kekurangan oksigen) otot jantung karena kelelahan fisik atau emosional dan dapat juga disebabkan oleh penciutan arteri jantung, infark, kejang-kejang atau adanya tachycardia tertentu, anemia hebat atau penciutan aorta. Gejalanya adalah rasa sakit hebat di bawah tulang dada yang menjalar ke pindak kiri dan lengan bagian atas, terutama bila berjalan atau sesudahnya ; nyeri tersebut akan hilang bila berhenti dan istirahat.
Tindakan umum unuk mengurangi serangan angina adalah berupa tindakan :
-          Tidak merokok (karena merokok dapat menciutkan pembuluh) dan diet (kolesterol dan lemak).
-          Menghindari beban fisik maupun mental.
-          Berolah rag, sekurang-kurangnya jalan kaki selama 1 jam sehari guna memperbaiki sirkulasi di jantung .
-          Mengobati hipertensi.
c.       Arimia
Adalah ganguan ritme berupa keluhan dalam frekwensi (kecepatan) denyut jantung karena serambi (atrium) dan bilik (venterikel) berdenyut lebi cepat (tacycardia0 atau lebih lambat (bradycardia) dari normal. Dapat pula karena terjadinya kekacauan dalam ritme (irama) denyut jantung, misalnya vibrasi (flutter), getaran 9fibrilasi) ataupun extrasistole. Heartblock merupakan suatu jenis aritmia yang disebabkan oleh gangguan penyaluranlistrik dari serambi kanan ke bilik kiri. Terapinya adalah dengan pacemaker, yaitu suatu alat kecil yang dapat mengirimkan impuls-implus listrik ke jantung guna menormalisir frewensi kontraksinya.
d.      Dekompenasi jantung
Adalah keadaan dimana sirkulasi darah jantung dan cardiac output menurun, misalnya akibat infark atau katup-katup jantung yang tidak bekerja sempurna, atau karena proses penuaan. Gejalanya adalah sukar bernafas bila berbaring (dyspnea0, muka membiru (cyanosis), dan oedema.
e.       Shock
Adalah salah satu komplikasi dari infark jantung yang sangat ditakuti karena biasanya berakibat fatal. Sebenarnya adalah tachycardia yang hebat, myocarditis dan sebagainya.

Pengolongan Obat jantung
(a) Kardiotonika
Yaitu glikosida-glikosida jantung, yang berkhasiat mempertinggi kontraktilitas jantung hingga cardiac ouput (volume menitnya) bertambah, sedangkan denyutnya dikurani (efek chronotrop negatif). Disamping itu glikosida jantung ini juga merintangi system penyaluran A-V (atrioventikuler, yakni dari serambi ke bilik) hingga penyaluran tersebut di perlambat. Kegunaan utamnya adalah pada kelemahan otot janyung (mycard) yang terjadi pada dekompensasi dan fibrilasi serambi.
Termasukkedalam golongan obat ini adalah :
(1)   Digitalsi folium
Merupakan prepat galenik, berupa tictura digitalis, yang diperoleh daridigitalis pupurae dan digitalis lanata. Daun digitalis mengandung dua glikosida yaitu lanatosida A dan lanatosida B. sedangkan digitalis lanata mengandung zat ke tiga, yaitu lanatosida C.
Pada terapi dengan digitalis dikenal dua jenis dosis, yaitu dosis digitalis (selama 1-6 hari pertama) dan dosis pemeliharaan. Dosis ini sangat individual zat tergantung pada kepekaan seseorang terhadap glikosida jantung.
(2)   Digoksin
Zat ini mulai bekerja setelah 2-4 jam dan bertahan sampai 3 hari. Umumnya diberikan per oral. Dalam hati mengalami biotransformasi menjadi metabolit –metabolit ini aktif yang dikeluarkan oleh ginjal. Kinidin dapat memperlambat eliminasi digoksin, sehingga dosinya perlu dikurangi hingga setengahnya bila kedua obat ini digunkan secara bersamaan.
(3)   Digitosin
Zat ini terutama digunkan pada terapi menahun dari dari dekompensasi. Mulai kerjanya setelah 1 jam dan bertahan 2-3 minggu. Oleh karena itu bahaya kumulasi lebih besar. Dalam hati diubah menjadi beberapa metabolit aktif, antara lain digoksin, yang dengan perlahan diekskresi oleh ginjal. Disamping itu juga mengalami siklus eterohepatik, yang lebih besar dari pada digoksin.
(4)   Quabain
Glikosida ini diperoleh dari biji tumbuhan Stophatus gartus. Muali bekerjanya setelah injeksi i.v, adalah lebih kurang 5 menit dan bertahan lebih kurang 24 jam. Zat ini tidak mengalami biotransformasi dan dikeluwarkan dalam keadaan utuh oleh ginjal. Juga tidak mengalami siklus eterohepatik, sehingga kemungkinan kumulasi kecil.
(5)   Proscilaridin
Zat ini diperoleh dari glikosida scillaren A yan terdapat dalam umbi tumbuhan scilla maritime. Disamping berkhasiat sebagai kardiotonik, zat ini juga bersifat diuretic. Mulai bekerja setelah penggunaan oral adalah lebih kurang satu jam, lama kerjanya relative singakat, sehingga resikumulasi ringan.

(b) Obat-obat Angina pectoris
Keadaan kekurangan dara (ischemia0 pada angina pectoris dapat diobati dengan vasodilator-vasodilator arteri jantung kebutuhan jantung akan oksigen.Diobati dengan :
·         Vasodilator koroner
Memperlebar arteri jantung, mempelancar pemasukan darah berserta oksigen, sehinggga meringankan beben jantung. Obat pilihan utama unutk serangan akut adalah nitrogliserin. Obat lainya adalah Dipiridamol, ISN.
·         Antangonis-antagonis kalsium
Kalsium merupakan elemen ensensial bagi fungsi mycord dan otot polos dinding arteriole-arteriole menciut (vasokostraksi). Antagonis kalsium menghambat pemasukan kalium ke dalam sel-sel mycord dan otot polos dinding arteri, sehingga dapat mencegah kontraksi dan vasokonriksi. Termasuk ke dalam antagonis kalsium antar lain nifedipin, Diltiazem, Verapamil.
·         Beta blockers
Pada reseptor β1 di jantung, berefek inotrop negative dan efek kronotrop positif, yaitu mengurangi daya dan frekwensi kontraksi jantung, serta memperlambat penyaluran impuls pada nosus AV.
Sedangkan pada reseptor β2 di bronchi (juga dinding pembuluh dan usus), yaitu memberikan efek vasokonstriktor. Semua β – blockers dapat digunakan unuk mengobati angina pictoris, tachy aritmia, hipertensi, infark jantung. Efek samping dari obat golongan ini adalah:
1.      Dekompensasi jantung, akibat bradcardia, dengan gejala sesak napas.
2.      Bronchokonstriksi dengan gejala sesak napas dan serangan serupa asma
3.     Perasaan dingin (pada jari kaki – tangan) dan terasa lemah 9akibat berkurangnya sirkulasi perifer dan oksigen di otot)
4.      Hipoglikemia
5.     Efek sentral seperti gangguan tidur dengan mimpin – mmpin ganjil (nigthtmare0, lesu, bahkan depresi dan halusinasi.
6.      Gangguan lambung dan usus seperti mual, muntah, diare
7.      Penurunan HDL-kolesterol.
                Tergolong obat ini antara lain propanolol, acebutonol.
(c) Antiartimia
Adalah obat – oabat yang dapat menormalisasi frekwensi dan ritme pukulan jantung. Disamping menurunkan frkwensi denyutan jantung (efek chronotrop negetif), umunya obat – obat ini juga mengurangi daya kontraksi jantung (efek inotrop positif). Berdasarkan mekanisme kerjanya, pengobatan artimia dibagi 4 golongan yaitu :
·         Zat –  zat dengan daya anestika local, disebut juga efek kinidin atau efek stabilisasi membrane. Zat ini mengurangi kepekaan membrane sel-sel jantung untuk rngsangan dengan jalan menghambat pemasukan ion natrium di membrane dan memperlambat depolarisasinya. Akibatnya ritme dan frekwensi jantung menjadi normal kembali. Termasuk zat ini adalah kelompok kinidin dan lidokain.
·         Zat perintang reseptor β adrenergic atau beta blockers, yang mengurangi aktivitas saraf adrenegik di otot jantung, sehingga frekwensi dan daya konstraksi jantung menurun. Contohnya timolol dan Propanolol.
·         Zat yang memperpanajang masa refrakter, dengan jalan memperpanjang aksi potensial. Contohnya Amiodaron dan Satalol.
·         Antagonis kalsium, contohnya Verapamil, Nifedipin, Diltiazem.
Contoh  obat jantung :
DIGOKSIN
Mekanisme kerja
1.      Meningkatkan kontraklititas otot jantung.
2.      Melepaskan cadangan ion Ca dari reticulum sarkoplasmik.
3.   Mempengarui aktivitas saraf otonom dan sensivitas jantung terhadap neurotransmitter saraf tersebut.
4.      Efek lasung pada serabut purkiye, nodus AV dan SA.

Indikasi
Gagal jantung, fibrilasi atau fluuter atrium, takikardia paroksimal.

Kontra indikasi:
Sindrom Wolf-Parkinson white, MCL.

Efek samping
Mual, rasa lelah, gangguan penglihatan, bigung, gangguan denyut jantung.

Interaksi obat
Hipokalemia bertambah berat jika diberikan bersama diuretik. Meningkatkan kadar antagonis kalsium, litium dan kuinidin dalam darah.

Dosis
Oral: 0,75-1,5 mg/hari

LANATOSID

Mekanisme kerja:
1.      Meningkatkan kontraklitilitas otot jantung.
2.      Melepaskan cadangan ion Ca dari reticulum sarkoplasmik.
3.      Efek lasung pada serabut purkiye nodus AV dan SA.
4.    Mempengaruhi aktifitas saraf otonom dan sensivitas jantung terhadap neurotransmitter saraf tersebut.
Indikasi:
Gagal jantung, fibrilitas atau flutter atrium, takikardia.

Kontraindikasi:
Miokard infark, sindromWolf-parkison white.

Efek samping:
Mual, rasa lelah, gangguan penglihatan bigung, gangguan denyut jantung.

Interaksi oba;
Hiplokalemia bertambah berat bila diberikan bersamaan diuretika. Meningkatkan kadar antagonis kalsium, litium, kuinidin dalam darah.

Dosis;
Im atau IV: 0,4 mg/2L.

Catatan:
1.Debaran jantung adalah pukulan ventrikel kiri kepada dinding anterior yang terjadi selama kontraksi ventrikel.
2.Kecepatan normal denyutnadi (jumlah debaran setiap menit)
Pada bayi yang baru lahir                 140 pada umur 5 tahun 96-100
Selama tahun pertama                      120 pada umur 10 tahun 80-90
Selama tahun kedua                         110 pada orang dewasa 60-80

Sabtu, 03 Desember 2011

INTERAKSI OBAT


Interaksi obat merupakan suatu faktor yang dapat mempengaruhi respon tubuh terhadap pengobatan. Obat dapat berinteraksi dengan makanan atau minuman, zat kimia atau dengan obat lain. Dikatakan terjadi interaksi apabila makanan, minuman, zat kimia, dan obat lain tersebut mengubah efek dari suatu obat yang diberikan bersamaan atau hampir bersamaan (Ganiswara, 2000). Beberapa obat sering diberikan secara bersamaan pada penulisan resep, maka mungkin terdapat obat yang kerjanya berlawanan. Obat pertama dapat memperkuat atau memperlemah, memperpanjang atau memperpendek kerja obat kedua. Interaksi obat harus lebih diperhatikan, karena interaksi obat pada terapi obat dapat menyebabkan kasus yang parah dan tingkat kerusakan-kerusakan pada pasien, dengan demikian jumlah dan tingkat keparahan kasus terjadinya interaksi obat dapat dikurangi (Mutschler, 1991).
Kejadian interaksi obat yang mungkin terjadi diperkirakan berkisar antara 2,2% sampai 30% dalam penelitian pasien rawat inap di rumah sakit, dan berkisar antara 9,2% sampai 70,3% pada pasien di masyarakat. Kemungkinan tersebut sampai 11,1% pasien yang benar-benar mengalami gejala yang diakibatkan olehinteraksi obat (Fradgley, 2003).
Oleh karena itu sangat penting bagi kita untuk mempelajari interkasi obat, dengan mempelajari interaksi obat diharapkan dapat meminilasir kesalahan pengobatan.
 
Definisi interaksi obat

Interaksi obat dapat didefinisikan sebagai modifikasi efek satu obat akibat obat lain yang diberikan pada awalnya atau diberikan bersamaan, atau bila dua atau lebih obat berinteraksi sedemikian rupa sehingga keefektifan atau toksisitas satu atau lebih akan berubah (Fradgley, 2003).
Di dalam tubuh obat mengalami berbagai macam proses hingga akhirnya obat di keluarkan lagi dari tubuh. Proses-proses tersebut meliputi, absorpsi, distribusi, metabolisme (biotransformasi), dan eliminasi. Dalam proses tersebut, bila berbagai macam obat diberikan secara bersamaan dapat menimbulkan suatu interaksi. Selain itu, obat juga dapat berinteraksi dengan zat makanan yang dikonsumsi bersamaan dengan obat.
Interaksi yang terjadi di dalam tubuh dapat dibedakan menjadi dua, yaitu interaksi farmakodinamik dan interaksi farmakokinetik. Interaksi farmakodinamik adalah interaksi antar obat (yang diberikan bersamaan) yang bekerja pada reseptor yang sama sehingga menimbulkan efek sinergis atau antagonis. Interaksi farmakokinetik adalah interaksi antar 2 atau lebih obat yang diberikan bersamaan dan saling mempengaruhi dalam proses ADME (absorpsi, distribusi, metabolisme, dan eliminasi) sehingga dapat meningkatkan atau menurunkan salah satu kadar obat dalam darah. 
Interaksi obat dengan makanan
Interaksi antara obat & makanan dapat terjadi ketika makanan yang kita makan mempengaruhi obat yang sedang kita gunakan, sehingga mempengaruhi efek obat tersebut. Interaksi antara obat & makanan dapat terjadi baik untuk obat resep dokter maupun obat yang dibeli bebas, seperti obat antasida, vitamin dll.

Kadang-kadang apabila kita minum obat berbarengan dengan makanan, maka dapat mempengaruhi efektifitas obat dibandingkan apabila diminum dalam keadaan perut kosong. Selain itu konsumsi secara bersamaan antara vitamin atau suplemen herbal dengan obat juga dapat menyebabkan terjadinya efek samping.
  • >> Beberapa contoh interaksi obat dan makanan

Tidak semua obat berinteraksi dengan makanan. Namun, banyak obat-obatan yang dipengaruhi oleh makanan tertentu dan waktu Anda memakannya. Berikut adalah beberapa contohnya:
  • Jus jeruk menghambat enzim yang terlibat dalam metabolisme obat sehingga mengintensifkan pengaruh obat-obatan tertentu. Peningkatan pengaruh obat mungkin kelihatannya baik, padahal tidak. Jika obat diserap lebih dari yang diharapkan, obat tersebut akan memiliki efek berlebihan. Misalnya, obat untuk membantu mengurangi tekanan darah bisa menurunkan tekanan darah terlalu jauh. Konsumsi jus jeruk pada saat yang sama dengan obat penurun kolesterol juga meningkatkan penyerapan bahan aktifnya dan menyebabkan kerusakan otot yang parah. Jeruk yang dimakan secara bersamaan dengan obat anti-inflamasi atau aspirin juga dapat memicu rasa panas dan asam di perut.
  • Kalsium atau makanan yang mengandung kalsium, seperti susu dan produk susu lainnya dapat mengurangi penyerapan tetrasiklin.
  • Makanan yang kaya vitamin K (kubis, brokoli, bayam, alpukat, selada) harus dibatasi konsumsinya jika sedang mendapatkan terapi antikoagulan (misalnya warfarin), untuk mengencerkan darah. Sayuran itu mengurangi efektivitas pengobatan dan meningkatkan risiko  trombosis (pembekuan darah).
  • Kafein meningkatkan risiko overdosis antibiotik tertentu (enoxacin, ciprofloxacin, norfloksasin).Untuk menghindari keluhan palpitasi, tremor, berkeringat atau halusinasi, yang terbaik adalah menghindari minum kopi, teh atau soda pada masa pengobatan.

Interaksi obat dengan obat

Interaksi Famakokinetik
1. Interaksi pada proses absorpsi
Interaksi dala absorbs di saluran cerna dapat disebabkan karena
a. Interaksi langsung yaitu terjadi reaksi/pembentukan senyawa kompleks antar senyawa obat yang mengakibatkan salah satu atau semuanya dari macam obat mengalami penurunan kecepatan absorpsi.
Contoh: interaksi tetrasiklin dengan ion Ca2+, Mg2+, Al2+ dalam antasid yang menyebabkan jumlah absorpsi keduanya turun.
b. Perubahan pH
Interaksi dapat terjadi akibat perubahan harga pH oleh obat pertama, sehingga menaikkan atau menurukan absorpsi obat kedua.
Contoh: pemberian antasid bersama penisilin G dapat meningkatkan jumlah absorpsi penisilin G
c. Motilitas saluran cerna
Pemberian obat-obat yang dapat mempengaruhi motilitas saluan cerna dapat mempegaruhi absorpsi obat lain yang diminum bersamaan.
Contoh: antikolinergik yang diberikan bersamaan dengan parasetamol dapat memperlambat parasetamol.
2. Interaksi pada proses distribusi
Di dalam darah senyawa obat berinteraksi dengan protein plasma. Seyawa yang asam akan berikatan dengan albumin dan yang basa akan berikatan dengan α1-glikoprotein. Jika 2 obat atau lebih diberikan maka dalam darah akan bersaing untuk berikatan dengan protein plasma,sehingga proses distribusi terganggu (terjadi peingkatan salah satu distribusi obat kejaringan).
Contoh: pemberian klorpropamid dengan fenilbutazon, akan meningkatkan distribusi klorpropamid.
3. Interaksi pada proses metabolisme
a. Hambatan metabolisme
Pemberian suatu obat bersamaan dengan obat lain yang enzim pemetabolismenya sama dapat terjadi gangguan metabolisme yang dapat menaikkan kadar salah satu obat dalam plasma, sehingga meningkatkan efeknya atau toksisitasnya.
Cotoh: pemberian S-warfarin bersamaan dengan fenilbutazon dapat menyebabkan mengkitnya kadar Swarfarin dan terjadi pendarahan.
b. Inductor enzim
Pemberian suatu obat bersamaan dengan obat lain yang enzim pemetabolismenya sama dapat terjadi gangguan metabolisme yang dapat menurunkan kadar obat dalam plasma, sehingga menurunkan efeknya atau toksisitasnya.
Contoh: pemberian estradiol bersamaan denagn rifampisin akan menyebabkan kadar estradiol menurun dan efektifitas kontrasepsi oral estradiol menurun.
4. Interaksi pada proses eliminasi
a. Gangguan ekskresi ginjal akibat kerusakan ginjal oleh obat
jika suatu obat yang ekskresinya melalui ginjal diberikan bersamaan obat-obat yang dapat merusak ginjal, maka akan terjadi akumulasi obat tersebut yang dapat menimbulkan efek toksik.
Contoh: digoksin diberikan bersamaan dengan obat yang dapat merusak ginjal (aminoglikosida, siklosporin) mengakibatkan kadar digoksin naik sehingga timbul efek toksik.
b. Kompetisi untuk sekresi aktif di tubulus ginjal
Jika di tubulus ginjal terjadi kompetisi antara obat dan metabolit obat untuk sistem trasport aktif yangsama dapat menyebabkan hambatan sekresi.
Contoh: jika penisilin diberikan bersamaan probenesid maka akan menyebabkan klirens penisilin turun, sehingga kerja penisilin lebih panjang.
c. Perubahan pH urin
Bila terjadi perubahan pH urin maka akan menyebabkan perubahan klirens ginjal. Jika harga pH urin naik akan meningkatkan eliminasi obat-obat yang bersifat asam lemah, sedangkan jika harga pH turun akan meningkatkan eliminasi obat-obat yang bersifat basa lemah.
Contoh: pemberian pseudoefedrin (obat basa lemah) diberikan bersamaan ammonium klorida maka akan meningkatkan ekskersi pseudoefedrin. Terjadi ammonium klorida akan mengasamkan urin sehingga terjadi peningkatan ionisasi pseudorfedrin dan eliminasi dari pseudoefedrin juga meningkat.

Pasien yang Rentan Terhadap Interaksi Obat

Efek dan tingkat keparahan interaksi obat dapat bervariasi antara pasien yang satu de ngan yang lain. Berbagai faktor dapat mempengaruhi kerentanan pasien terhadap interaksi obat, antara lain yaitu:
1). Pasien lanjut usia
2). Orang yang minum lebih dari satu macam obat
3). Pasien yang mempunyai gangguan fungsi ginjal dan hati
4). Pasien dengan penyakit akut
5). Pasien dengan penyakit yang tidak stabil
6). Pasien yang memiliki karakteristik genetik tertentu
7). Pasien yang dirawat oleh lebih dari satu dokter (Fradgley, 2003).

Reaksi yang merugikan dan interaksi obat yang terjadi pada pasien lanjut usia adalah tiga sampai tujuh kali lebih banyak daripada mereka yang berusia pertengahan dan dewasa muda. Pasien lanjut usia menggunakan banyak obat karena penyakit kronis dan banyaknya penyakit mereka, oleh karena itu mereka mudah mengalami reaksi dan interaksi yang merugikan (Kee dan Hayes, 1996).
  
---->>>Reaksi yang merugikan dan interaksi obat yang terjadi pada pasien lanjut usia lebih tinggi karena beberapa sebab, yaitu:
1). Pasien lanjut usia menggunakan banyak obat karena penyakit kronik dan
     banyaknya penyakit mereka.
2). Banyak dari pasien lanjut usia melakukan pengobatan diri sendiri dengan obat
bebas, memakai obat yang diresepkan untuk masalah kesehatan yang lain, menggunakan obat yang diberikan oleh beberapa dokter, menggunakan obat yang diresepkan untuk orang lain, dan tentunya proses penuaan fisiologis yang
terus berjalan.
3). Perubahan-perubahan fisiologis yang berkaitan dengan proses penuaan seperti
pada sistem gastrointestinal, jantung dan sirkulasi, hati dan ginjal dan perubahan ini mempengaruhi respon farmakologik terhadap terapi obat.

 Penatalaksanaan Interaksi Obat

Langkah pertama dalam penatalaksanaan interaksi obat adalah waspada terhadap pasien yang memperoleh obat-obatan yang mungkin dapat berinteraksi dengan obat lain. Langkah berikutnya adalah memberitahu dokter dan mendiskusikan berbagai langkah yang dapat diambil untuk meminimalkan berbagai efek samping obat yang mungkin terjadi. Strategi dalam penataan obat ini meliputi :

1.      Menghindari kombinasi obat yang berinteraksi.
Jika risiko interaksi obat lebih besar daripada manfaatnya, maka harus
dipertimbangkan untuk memakai obat pengganti.
2.       Menyesuaikan dosis
Jika hasil interaksi obat meningkatkan atau mengurangi efek obat, maka perlu dilaksanakan modifikasi dosis salah satu atau kedua obat untuk mengimbangi kenaikan atau penurunan efek obat tersebut.
3.       Memantau pasien
Jika kombinasi obat yang saling berinteraksi diberikan, pemantauan
diperlukan.
4.      Melanjutkan pengobatan seperti sebelumnya
Jika interaksi obat tidak bermakna klinis, atau jika kombinasi obat yang berinteraksi tersebut merupakan pengobatan yang optimal, pengobatan pasien dapat diteruskan tanpa perubahan (Fradgley, 2003).

Level Signifikansi Klinis dalam Interaksi Obat

Menurut Hansten dan Horn (2002) signifikansi klinis dibuat dengan mempertimbangkan kemungkinan bagi pasien dan tingkat dokumentasi yang tersedia. Setiap interaksi telah ditandai dengan salah satu dari tiga kelas, yaitu: Mayor, Moderat, atau Minor. Sistem klasifikasi tersebut telah disesuaikan dengan banyak provider lain dari informasi interaksi obat. Pengetahuan signifikansi klinis dari suatu interaksi hanya menyediakan sedikit informasi untuk memilih strategi manajemen yang tepat untuk pasien khusus. Interaksi obat ditandai dengan salah satu dari tiga kelas berdasarkan interevensi yuang dibutuhkan untuk meminimalisasi risiko dari interaksi. Interaksi ditandai berdasarkan nomer signifikansi sebagai berikut:

1. Interaksi kelas 1
Sebaiknya kombinasi ini dihindari, karena lebih banyak risikonya
dibandingkan keuntungannya.
2. Interaksi kelas 2
Biasanya kombinasi ini dihindari, sebaiknya penggunaan kombinasi
tersebut hanya pada keadaan khusus.
3. Interaksi kelas 3
Interaksi kelas 3 ini risikonya minimal, untuk itu perlu diambil tindaka n
yang dibutuhkan untuk mengurangi risiko.
 

Konsekuensi dari interaksi obat.

Interaksi obat dapat mengakibatkan peningkatan atau penurunan yang bermanfaat atau efek merugikan yang diberikan obat-obatan. Bila interaksi obat meningkatkan manfaat dari administratif obat tanpa meningkatkan efek samping, kedua obat dapat digabungkan untuk meningkatkan kontrol terhadap kondisi yang sedang dirawat. Misalnya, obat-obatan yang mengurangi tekanan darah oleh berbagai mekanisme yang berbeda dapat digabungkan karena efek menurunkan tekanan darah dicapai oleh kedua obat-obatan mungkin akan lebih baik dibandingkan dengan obat itu sendiri. Penyerapan beberapa jenis obat meningkat oleh makanan. Oleh karena itu, obat ini diambil dengan makanan dalam rangka untuk meningkatkan konsentrasi mereka didalam tubuh dan, pada akhirnya, mereka berpengaruh. Sebaliknya, bila penyerapan obat-obatan berkurang oleh makanan, maka obat diambil pada waktu perut kosong.
            Interaksi obat yang paling banyak dikuatirkan adalah yang mengurangi dari efek yang diinginkan atau meningkatkan efek merugikan dari obat itu sendiri. Obat yang mengurangi penyerapan atau meningkatkan metabolisme atau penghapusan obat lainnya cenderung mengurangi efek dari obat yang lain. Hal ini dapat mengakibatkan kegagalan terapi atau memerlukan peningkatan dosis obat agar berpengaruh. Sebaliknya, obat-obatan yang meningkatkan penyerapan atau mengurangi eliminasi atau metabolisme obat lain yang meningkatkan konsentrasi obat-obatan lain di dalam tubuh dan menyebabkan lebih banyak efek samping. Terkadang, obat berinteraksi karena mereka menghasilkan efek samping yang serupa. Oleh karena itu, bila kedua obat yang menghasilkan efek samping yang sama digabungkan, frekuensi dan kerasnya dari efek samping yang meningkat.


>> Interaksi obat dan tembakau/rokok <<
Bahwa merokok mempengaruhi metabolisme obat sudah lama diketahui. Mekanisme utama dari interaksi ini ialah biotransformasi obat dipercepat kerana terjadi induksi dari mikrosomal enzim di hepar yang disebabkan oleh zat-zat yang ada pada asap rokok.bagaimana presismekanisme ini belum dapat ditentukan.interkasi obat dengan tembakau/rokok ini mengakibatkan penurunan obat dalam plasma. Dari tabel I di bawah yang paling penting secara klinis ialah efek terhadap pil keluwarga berencana (Pil KB) dan oestrogen lainya, juga efek terhadap Theopyllin dapat tergagu.

1.      Oestrogen-tembakau/rokok
Studi epidemiologis menujukan bahwa efek kardivaskuler seperti “stroke”, infark miokordial dan thromboembolisme yang dikaitkan dengan penggunaan konstrasepsi oral (pil KB) jauh lebih besar pada seorang perokok daripada bukan perokok. Resikok ini meningkatdengan unsure serta jumlah rokok yang diihisp seharinya. Mekanisme pasti dari interaksi ini masih kurang  jelas. Bagaimanapun, wanita yang sedang ber_KB dengan Pil KB, seharusnya tidak merokok kerana asap rokok dapat mengurangi kada Oestrogen dalam darah. Dan kalau wanita ini tidak mau menghentikan rokoknya, maka dia harus memakai cara kontrasepsi yang lain, misalnya kondom.

2.       Theophyllin-tembakau/rokok
Merokok secara signifikasi merupakan farmakokinetik Theophyllin. Rokok merasang biotransformasi Theophyllia di hepra dan mengakibatkan peningkatan kliners Theophyllin, sehigga waktu paruh  (t1/2) Theophyllin menjadi lebih singkat dan kadar dalam darah lebih rendah. Seorang perokok berat samapai memelukan theophyllin dalam dosis dua kali lipat dari dosis lazim.

Tabel I. Efek obat-obat yang dipengaruhi oleh asap rokok

-          Anidepresan trisklik
(Amitriptylin, Desipramine, Imipramine, Nortriptylin).
-          Antidiabetika oral
-          Benzodiazepines (Diazepam, Chlorodiazepoxid)
-          Cholorpromazine
-          Kontraseptif oral (pil KB0
-          Oestrogen
-          Heperain
-          Lidocaine
-          Pentazocine
-          Propaxyphene
-          Propanol
-          theophyllin
 SARAN BAGI PEMBACA:

Saran yang bisa saya berikan pada para pembaca posting Interaksi obat ini tidak banyak, yang penting dalam memilih obat harus diperhatikan betul interaksinya baik-baik. Dengan memperhatikan interaksi obat yang akan terjadi jika digunakan, ini dapat dilihat dari indikasi dan kontrak indikasi karena cara ini cukup mudah dan bisa digunakan di lapangan.

Setiap obat pasti memiliki interaksi pada obat lain maupun makanan, hal ini tidak bisa di hilangkan karena akan saling mempengaruhi satu dengan yang lain. Bisa di anologikan secara sederhan suatu interaksi obat dengan matematis contoh 1+1= 2 jika suatau obat di berikan bersamaan dan memiliki khasiat yang sama makan akan memperkuat efek yang dinginkan.

Tidak bisa di pungkiri dalam mengunaka obat pasti akan terjadi interaksi obat, tapi hal ini tidak boleh membuat kita takut. dengan adanya interaksi obat ini maka kita dapat merancang/memformulisasikan obat agar di dapatkan manfaat yang maksimal(khasiat). Intinya dengan adanya interaksi obat ini kita jangan takut malah ini bisa digunakan untuk penyembuhan.


Literatur saya ambil dari beberapa sumber media onlaind dan beberapa buku di antaranya :


http://www.untukku.com/artikel-untukku/interaksi-obat-apa-yang-patut-anda-ketahui-untukku.html

http://pio.farmasi.ui.ac.id/interaksiobat.php

http://www.faikshare.com/2010/08/interaksi-obat-dan-makanan.html

Maaf jika ada yang belum saya masukan dalam daftar literatur yang saya gunakan dalam posting kalih ini.
Akan saya tambahi literaturnya nanti, maaf karena saya sedikit lupa.

 
Sumber bacaan :
- Melader A, Dabielson K, Schereten B, et al. Enhancement by food of Canrenone biovailability form spironolactone. Clin Pharmacol Ther 199; 22:100-103. 
- Jung D. Clinical Pharmacokinetics. Moduls Yogyakarta 1985.
Dan masih banyak lagi sumber bacaan yang ada untuk menambah pemahan kita.