Kanker mulut rahim adalah suatu keadaan dimana sel mulut
ramih mengalami ketidak normalan karena terjadi kerusakan/kelainan pada sel,
bisa disebabkan oleh virus atau mutasi dan masih banyak lagi penyebabnya. Secara anatomi reproduksi wanita dibagi menjadi dua bagian,
yaitu : bagian yang terlihat dari luar ( genitalia eksterna ) dan bagian yang berada di dalam panggul ( genitalia
interna ).
Rahim termasuk reproduksi bagian di dalam panggul, yang mempuyai panjang
5 sampai 8 sentimeter, dan beratnya 30 sampai 60 gram. Rahim berbentuk seperti
buah pir gepeng, berukuran panjang B-9 cm. Letaknya terdapat di belakang/atas
kandung kencing dan didepan/bawah saluran pelepasan. Dindingnya terdiri dari
dua lapisan Mot yang teranyam saling metintang. Lapisan dinding rahim yang
terdalam disebut endometrium,
merupakan lapisan setaput
lendir. Kanker mulut rahim berda pada di antara rahim dan vagina lebih tepanya
perbatasan antara rongga rahim dan vagina (yang menghubungkan alat kelamin dan rahim).
Peyebab kanker mulut rahim yang
paling utama disebabkan oleh virus
HPV (Human Papilloma Virus). Virus ini tak hanya menyerang kaum
perempuan. Virus ini juga mengintai para pria, meski efeknya tak seganas saat
menyerang perempuan, pria bisa menjadi pembawa dan menularkannya.
PATOFISIOLOGI Virus minfeksi mulut rahim --> mutasi
sel di daerah tersebut --> berkembang menjadi sel kanker --> menimbulkan
kerusakan, dan menyebar ke organ tubuh lainnya. Diket > 40 macam virus, yang
berhubungan dengan kanker mulut rahim al HPV 16, 18, 45, 31. Di Indonesia teserang
gol HPV 18.
FAKTOR RISIKO
Fakor resiko disini bukan berati bahwah orang
yang melakukan atau berada dalam lingkungan faktor reseiko berati diya terkena
kanker mulut rahim atau penyebabnya adalah salah satu faktor resiko itu. Faktor
resiko adalah suatu keadaan dimana orang
yang dekat dengan faktor resiko itu lebih besar akan terkena kanker mulut rahim
dibandingkan dengan orang biyasa. Beberapa faktor resiko yang bisa menyebabkan
kanker mulut rahim diantaranya :
• Aktivitas seksual sebelum usia 20 tahun.
• Banyak pasangan seksual.
• Terpapar Infeksi menular seksual (IMS).
• Riwayat keluarga dengan kanker serviks.
• Hasil Pap smear sebelumnya yang tak normal.
• Merokok.
• Penurunan daya tahan tubuh.
• Mengidap HIV/AIDS
• Penggunaan corticosteroid kronis.
GEJALA KANKER MULUT RAHIM
Gejala yang diperlihatkan pada awal, penyakit ini
tidak menunjukan gejala yang khas sehinga mudah untuk diamati. Tapi pada penderita
stadium lanjut pada umumumnya terdapat beberapa gejala yang harus segera
dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Gejala-gejala kanker mulut rahim
tingkat lanjut:
·Keputihan yang berlebihan (abnormal).
·Sering terjadi pendarahan di luar siklus
menstruasi.
·Rasa sakit saat bersenggama.
·Nyeri perut bawah, panggul dan punggung.
·Pebengkakan kaki.
Karena gejala yang dapat terlihat pada stadium
lanjut, sehinga kebanyakan penderita menyadari bahwa dirinya terjangkit kanker
mulut rahim dalam kondisi yang cukup parah. Oleh kerana itu jika diantara kita
mengalami gejala stadium lanjut seperti di atas haru secepat mungkin diperiksakan
pada tenaga medis.
PENCEGAHAN
Pencegahan
kaker mulut rahim dapat di bagi menjadi tiga yaitu : 1.Pencegahan Primer
·KIE
menghindari perilaku seksual yang berisiko tinggi
·Assessment
Faktor Risiko
· Immunisasi HPV
2. Pencegahan Sekunder
·Mdentifikasi
& mTx lesi pra-kanker sebelum berkembang menjadi Ca
·Penemuan
& tatalaksana kanker stadium awal
3. Pencegahan Tertier
·Penemuan
& tatalaksana kanker stadium lanjut.
Untuk pencegahan yang paling baik, sebainya
dilakukan pencegahan primer berupa immunisasi HPV karena penyebab kanker mulut
rahim adalah virus HPV. Seperti halnya imunisasi pada balita dengan tujuan
untuk mencegah terjadinya polio, Dengan cara kerja memberikan kekebalan pada tubuh untuk
melawan virus polio sehingga diharapkan sang balita kebal oleh virus (tidak
sakit). Sama halnya pada imunisai HPV, tujuanya juga untuk memberikan kekebalan
pada tubuh jika pada suatu saat terserang virus HPV maka tubuh dengan mudah
mengatsinya.
DETEKSI KANKER SERVIKS
1.IVA (Inspeksi Visual dg Asam asetat)
Merupakan cara
sederhana untuk mendeteksi kanker leher rahim sedini mungkin. Dengan metode
inspeksi visual yang lebih mudah, lebih sederhana, lebih mampu dilaksana, maka
skrining dapat dilakukan dengan cakupan lebih luas. Dalam pelaksaan IVA jika
tida ada perubahan warna atau tida muncul plak putih maka hasil pemeriksaan
diinyatakan negatif. Sebaliknya, jika mulut leher rahim berubah warna menjadi
merah dan timbul plak putih, maka dinyatakan positif lesi atau kelainan
prakanker. IVA sudah bisa dilaksanakan ditingkatan puskemas-puskemas dan lebih
terjaungkau dari yang lainya.
2.Papsmear
Pap Test(Pap Smear) adalah pemeriksaan
usapan pada leher rahimuntuk mengetahui adanya perubahan sel-sel yang abnormal
yang diperiksa dibawah mikroskop.
3.Thin prep
Merupakan metode berbasis cairan yang
lebih akurat dibanding Pap smear. Metode
ini memiliki beberapa kelebihan bila dibandingkan dengan papsmear seperti
pengambilan sampel serviks yang lebih baik dan diagnosis lebih akan lebih
tepat.
4.Kolposkopi
Jika semua hasil tes pada metode
sebelumnya menunjukkan adanya infeksi atau kejanggalan, prosedur kolposkopi
akan dilakukan dengan menggunakan alat yang dilengkapi lensa pembesar untuk
mengamati bagian yang terinfeksi. Tujuannya untuk menentukan apakah ada lesi
atau jaringan yang tidak normal pada serviks atau leher rahim. Jika ada yang
tidak normal, biopsi — pengambilan sejumlah kecil jaringan dari tubuh —
dilakukan dan pengobatan untuk kanker serviks segera dimulai.
CARA PENULARAN KANKER
SERVIKS
Penularan
virus HPV salah satunya bisa melalui hubungan seksual, terutama yang dilakukan
dengan berganti-ganti pasangan. Tetapi juga dapat terjadi
meski tidak melalui hubungan seksual
oleh karena itu hubungan seksual bukan satu-satunya cara penularan kanker mulut
rahim.
TERAPI KANKER MULUT RAHIM
Terapi secara umum untuk medik dibagi
menjadi tiga, yaitu operasi, radioterapi, dan kemoterapi. Sehingga dalam
penangananya kasus kaker mulut rahim disesuaikan dengan stadiumnya, seperti di
bawah ini :
·Stadium
O atau lesi prakanker diobati dengan tindakan lokal.
·Stadium
1, dibagi A dan B, operasi. Stadium 2A masih dioperasi,
·Stadium
2B sebaiknya radiasi dibantu kemoterapi.
·Stadium
3 dan 4 stadium lanjut A dan B, biasanya radiasi dibantu kemoterapi.
CATATAN YANG SANGAT PENTING
Kanker mulut
rahim adalah suatu penyakit yang sangat berbeda dengan HIV/AID, sehinga sewajarnya
kita tidak perlu berperasangka burung. Jika kita berada diposisi, sebagai
seorang suami yang mempuyai istri penderita kanker mulut rahim alangkah
baiknya kita berintropeksi diri dan tidak meyalahkan istri. Jagan pernah
menghardik istri karena bisa saja kita mengambil peranan dalam penyakit yang
dideritanya. Sudah dijelaskan diatas bahwa salah satu cara penularan kanker
mulut rahim adalah melalui hubungan seksual, maka sangat wajar bila kita bisa
menularkan pada istri kita. Terus kenapa laki-laki sebagai salah satu pembawa
virus HPV tidak sakit? Jawabannya karena virus yang kita bawa itu tidak aktif
dan hanya aktif pada wanita.
Setiap wanita
yang melakukan hubungan seksual kemungkinan besar bisa saja terkena virus HPV,
walau dengan suami. Perkembangan virus HPV untuk menjadi kanker mulut rahim
membutuhkan waktu yang sangat lama (bertahun-tahun bahkan bisa berpulu-puluh
tahun). Perlu kearifan sebagai seorang suami dalam menyikapi masalah ini, dan
sebagai selalu setiap mendampingi istri. Sedangkan untuk istri jagan kuatir, tidak
bisa melayani suami sebab masih bisa melakukan hubungan suami istri walau
terkena kaker mulut rahim (konsultasikan pada dokter atau tenaga medis yang
berkompen-lainya)
Karena penyakit kanker mulut rahim disebabkan oleh virus
HPV, maka dari itu tidak sepenuhnya benar kalo kaker mulut rahim dikatakan sebagai
penyakit keturunan.
Saya sarankan
untuk pengobatan kanker mulut rahim yang terbaik adalah mengunakan kombinasi
dari ilmu kedokteran, terapi dan obat herbal. Kenapa saya sarankan seperti
ini?, ini dikarenakan supaya didapatkan penyembuhan yang maksimal dll(tidak
bisa saya berikan alasan-nya disini).
Jantung merupakan organ pemompa yang
besar yang memelihara peredaran darah dalam tubuh. Ukurann jantung kira-kira
sebesar kepalan tangan. Jantung dewasa beratnya antara 220 samapi 260 gram.
Jantung sangat penting bagi tubuh kita karena jantung adalah organ yang
bertugas memompa darah ke seluruh tubuh.
Pada orang yang sedang istirahat
jantungnya berdebar 70 kali semenit dan memompa 70 ml setiap denyut (volume denyutan adalah 70 ml). Jumalah darah
yang setiap menit dipompa dengan demikian adalah 70 x 70 ml atau sekitar 5
liter.
Sewaktu
banyak bergerak kecepatan jantung dapat menjadi 150 setiap menit dan volume
denyut lebih dari 150 ml, yang membuat daya pompa jantung 20 sampai 25 liter
setiap menit.
Organ fital kita ini tidak lepas dari
serangan penyakit dan keadaan berbahaya. Bagi kehidupan manusai jantung
sangatlah penting sehingga penyakit yang ada di jantung seringkali mengakibatkan
kematian. Kematiaan yang disebakan oleh tidak berfunsinya jantung, selalau
menduduki peringkat atas.
Pengertian penyakit jantung dan serangan
jantung berbeda. Serangan jantung adalah sebuah kondisi yang menyebabkan
jantung sama sekali tidak berfungsi. Kondisi ini biasanya terjadi mendadak, dan
sering disebut gagal jantung. Sedangkan Pengertian penyakit jantung
sendiri yaitu penyakit yang terjadi pada jantung
akibat adanya gangguan kinerja jantung untuk memompa
darah.
Beberapa pengertian :
1.Atherosclerosis
adalah gangguan pembuluh yang disebkan karena menebal dan mengerasnya dinding
pembuluh nadi (arteri) besar dan sedang. Hal ini diakibatkan oleh endapan dari
kolesterol, lemak, kalsium dan fibrian (plak) di dinding pembuluh.
2.Hipertensi adalah tingginya tekanan darah yang
berhubungan dengan pengerasan/penebalan pembulu darah.
3.Angina
pictoris adalah penyakit jantung ateri otak tersumbat sama sekalih, maka timbul
infark jantung atau infark otak (stroke)
4.Kalau
jantung tidak sanggup lagi memelihara peredaran darah selayaknya, makan akan
timbul gagal jantung (dekompensasi)
Obat Jantung
Obat jantung adalh obat yang secara lasung
memulihkan fungsi otot jantung yang terganggu ke keadaan normal.
Gangguan-gangguan jantung
a.Infark jantung
Infark
jantung atau trombiss koroner, umumnya disebut serangan jantung, adalah keadaan
tersumbatnya suatu cabang pembuluh jantung yang menyalurkan darah ke jantung
oleh gumpalan darah beku (trombus). Gejala berupa nyeri yang hebat dibelakang
tulangdada, rasa gelisa, tidak mampu mengerakkan tangan dan kaki, muka membiru
dan debar jantung (tachycardia)
b.Angina pectoris
Angina
pectoris adalah gangguan kelelahan yang timbul sebagai akibat hypoxia
(kekurangan oksigen) otot jantung karena kelelahan fisik atau emosional dan
dapat juga disebabkan oleh penciutan arteri jantung, infark, kejang-kejang atau
adanya tachycardia tertentu, anemia hebat atau penciutan aorta. Gejalanya
adalah rasa sakit hebat di bawah tulang dada yang menjalar ke pindak kiri dan
lengan bagian atas, terutama bila berjalan atau sesudahnya ; nyeri tersebut
akan hilang bila berhenti dan istirahat.
Tindakan
umum unuk mengurangi serangan angina adalah berupa tindakan :
-Tidak merokok (karena merokok dapat
menciutkan pembuluh) dan diet (kolesterol dan lemak).
-Menghindari beban fisik maupun mental.
-Berolah rag, sekurang-kurangnya jalan
kaki selama 1 jam sehari guna memperbaiki sirkulasi di jantung .
-Mengobati hipertensi.
c.Arimia
Adalah
ganguan ritme berupa keluhan dalam frekwensi (kecepatan) denyut jantung karena
serambi (atrium) dan bilik (venterikel) berdenyut lebi cepat (tacycardia0 atau
lebih lambat (bradycardia) dari normal. Dapat pula karena terjadinya kekacauan
dalam ritme (irama) denyut jantung, misalnya vibrasi (flutter), getaran
9fibrilasi) ataupun extrasistole. Heartblock merupakan suatu jenis aritmia yang
disebabkan oleh gangguan penyaluranlistrik dari serambi kanan ke bilik kiri.
Terapinya adalah dengan pacemaker, yaitu suatu alat kecil yang dapat
mengirimkan impuls-implus listrik ke jantung guna menormalisir frewensi
kontraksinya.
d.Dekompenasi jantung
Adalah
keadaan dimana sirkulasi darah jantung dan cardiac output menurun, misalnya
akibat infark atau katup-katup jantung yang tidak bekerja sempurna, atau karena
proses penuaan. Gejalanya adalah sukar bernafas bila berbaring (dyspnea0, muka
membiru (cyanosis), dan oedema.
e.Shock
Adalah
salah satu komplikasi dari infark jantung yang sangat ditakuti karena biasanya
berakibat fatal. Sebenarnya adalah tachycardia yang hebat, myocarditis dan
sebagainya.
Pengolongan Obat jantung
(a) Kardiotonika
Yaitu
glikosida-glikosida jantung, yang berkhasiat mempertinggi kontraktilitas jantung
hingga cardiac ouput (volume menitnya) bertambah, sedangkan denyutnya dikurani
(efek chronotrop negatif). Disamping itu glikosida jantung ini juga merintangi
system penyaluran A-V (atrioventikuler, yakni dari serambi ke bilik) hingga
penyaluran tersebut di perlambat. Kegunaan utamnya adalah pada kelemahan otot
janyung (mycard) yang terjadi pada dekompensasi dan fibrilasi serambi.
Termasukkedalam
golongan obat ini adalah :
(1)Digitalsi folium
Merupakan
prepat galenik, berupa tictura digitalis, yang diperoleh daridigitalis pupurae
dan digitalis lanata. Daun digitalis mengandung dua glikosida yaitu lanatosida
A dan lanatosida B. sedangkan digitalis lanata mengandung zat ke tiga, yaitu
lanatosida C.
Pada
terapi dengan digitalis dikenal dua jenis dosis, yaitu dosis digitalis (selama
1-6 hari pertama) dan dosis pemeliharaan. Dosis ini sangat individual zat
tergantung pada kepekaan seseorang terhadap glikosida jantung.
(2)Digoksin
Zat
ini mulai bekerja setelah 2-4 jam dan bertahan sampai 3 hari. Umumnya diberikan
per oral. Dalam hati mengalami biotransformasi menjadi metabolit –metabolit ini
aktif yang dikeluarkan oleh ginjal. Kinidin dapat memperlambat eliminasi
digoksin, sehingga dosinya perlu dikurangi hingga setengahnya bila kedua obat
ini digunkan secara bersamaan.
(3)Digitosin
Zat
ini terutama digunkan pada terapi menahun dari dari dekompensasi. Mulai
kerjanya setelah 1 jam dan bertahan 2-3 minggu. Oleh karena itu bahaya kumulasi
lebih besar. Dalam hati diubah menjadi beberapa metabolit aktif, antara lain
digoksin, yang dengan perlahan diekskresi oleh ginjal. Disamping itu juga
mengalami siklus eterohepatik, yang lebih besar dari pada digoksin.
(4)Quabain
Glikosida
ini diperoleh dari biji tumbuhan Stophatus
gartus. Muali bekerjanya setelah injeksi i.v, adalah lebih kurang 5 menit
dan bertahan lebih kurang 24 jam. Zat ini tidak mengalami biotransformasi dan
dikeluwarkan dalam keadaan utuh oleh ginjal. Juga tidak mengalami siklus
eterohepatik, sehingga kemungkinan kumulasi kecil.
(5)Proscilaridin
Zat
ini diperoleh dari glikosida scillaren A yan terdapat dalam umbi tumbuhan
scilla maritime. Disamping berkhasiat sebagai kardiotonik, zat ini juga
bersifat diuretic. Mulai bekerja setelah penggunaan oral adalah lebih kurang
satu jam, lama kerjanya relative singakat, sehingga resikumulasi ringan.
(b) Obat-obat Angina
pectoris
Keadaan kekurangan dara
(ischemia0 pada angina pectoris dapat diobati dengan vasodilator-vasodilator
arteri jantung kebutuhan jantung akan oksigen.Diobati dengan :
·Vasodilator koroner
Memperlebar
arteri jantung, mempelancar pemasukan darah berserta oksigen, sehinggga
meringankan beben jantung. Obat pilihan utama unutk serangan akut adalah
nitrogliserin. Obat lainya adalah Dipiridamol, ISN.
·Antangonis-antagonis kalsium
Kalsium
merupakan elemen ensensial bagi fungsi mycord dan otot polos dinding
arteriole-arteriole menciut (vasokostraksi). Antagonis kalsium menghambat
pemasukan kalium ke dalam sel-sel mycord dan otot polos dinding arteri,
sehingga dapat mencegah kontraksi dan vasokonriksi. Termasuk ke dalam antagonis
kalsium antar lain nifedipin, Diltiazem, Verapamil.
·Beta blockers
Pada
reseptor β1 di jantung, berefek inotrop negative dan efek kronotrop
positif, yaitu mengurangi daya dan frekwensi kontraksi jantung, serta
memperlambat penyaluran impuls pada nosus AV.
Sedangkan
pada reseptor β2 di bronchi (juga dinding pembuluh dan usus), yaitu
memberikan efek vasokonstriktor. Semua β – blockers dapat digunakan unuk
mengobati angina pictoris, tachy aritmia, hipertensi, infark jantung. Efek
samping dari obat golongan ini adalah:
1.Dekompensasi
jantung, akibat bradcardia, dengan gejala sesak napas.
2.Bronchokonstriksi
dengan gejala sesak napas dan serangan serupa asma
3.Perasaan
dingin (pada jari kaki – tangan) dan terasa lemah 9akibat berkurangnya
sirkulasi perifer dan oksigen di otot)
4.Hipoglikemia
5.Efek
sentral seperti gangguan tidur dengan mimpin – mmpin ganjil (nigthtmare0, lesu,
bahkan depresi dan halusinasi.
6.Gangguan
lambung dan usus seperti mual, muntah, diare
7.Penurunan
HDL-kolesterol.
Tergolong obat ini
antara lain propanolol, acebutonol.
(c) Antiartimia
Adalah
obat – oabat yang dapat menormalisasi frekwensi dan ritme pukulan jantung.
Disamping menurunkan frkwensi denyutan jantung (efek chronotrop negetif),
umunya obat – obat ini juga mengurangi daya kontraksi jantung (efek inotrop
positif). Berdasarkan mekanisme kerjanya, pengobatan artimia dibagi 4 golongan
yaitu :
·Zat –
zat dengan daya anestika local, disebut juga efek kinidin atau efek
stabilisasi membrane. Zat ini mengurangi kepekaan membrane sel-sel jantung
untuk rngsangan dengan jalan menghambat pemasukan ion natrium di membrane dan
memperlambat depolarisasinya. Akibatnya ritme dan frekwensi jantung menjadi
normal kembali. Termasuk zat ini adalah kelompok kinidin dan lidokain.
·Zat perintang reseptor β adrenergic atau
beta blockers, yang mengurangi aktivitas saraf adrenegik di otot jantung,
sehingga frekwensi dan daya konstraksi jantung menurun. Contohnya timolol dan
Propanolol.
·Zat yang memperpanajang masa refrakter,
dengan jalan memperpanjang aksi potensial. Contohnya Amiodaron dan Satalol.
Interaksi obat merupakan suatu faktor yang
dapat mempengaruhi respon tubuh terhadap pengobatan. Obat dapat berinteraksi
dengan makanan atau minuman, zat kimia atau dengan obat lain. Dikatakan terjadi
interaksi apabila makanan, minuman, zat kimia, dan obat lain tersebut mengubah
efek dari suatu obat yang diberikan bersamaan atau hampir bersamaan (Ganiswara,
2000). Beberapa obat sering diberikan secara bersamaan pada penulisan resep, maka
mungkin terdapat obat yang kerjanya berlawanan. Obat pertama dapat memperkuat
atau memperlemah, memperpanjang atau memperpendek kerja obat kedua. Interaksi
obat harus lebih diperhatikan, karena interaksi obat pada terapi obat dapat
menyebabkan kasus yang parah dan tingkat kerusakan-kerusakan pada pasien,
dengan demikian jumlah dan tingkat keparahan kasus terjadinya interaksi obat
dapat dikurangi (Mutschler, 1991).
Kejadian interaksi obat yang mungkin terjadi
diperkirakan berkisar antara 2,2% sampai 30% dalam penelitian pasien rawat inap
di rumah sakit, dan berkisar antara 9,2% sampai 70,3% pada pasien di
masyarakat. Kemungkinan tersebut sampai 11,1% pasien yang benar-benar mengalami
gejala yang diakibatkan olehinteraksi obat (Fradgley, 2003).
Oleh karena itu sangat penting bagi kita untuk mempelajari interkasi obat, dengan mempelajari
interaksi obat diharapkan dapat meminilasir kesalahan pengobatan.
Definisi interaksi obat
Interaksi
obat dapat didefinisikan sebagai modifikasi efek satu obat akibat obat lain
yang diberikan pada awalnya atau diberikan bersamaan, atau bila dua atau lebih
obat berinteraksi sedemikian rupa sehingga keefektifan atau toksisitas satu
atau lebih akan berubah (Fradgley, 2003).
Di dalam tubuh obat mengalami berbagai macam proses
hingga akhirnya obat di keluarkan lagi dari tubuh. Proses-proses tersebut
meliputi, absorpsi, distribusi, metabolisme (biotransformasi), dan eliminasi.
Dalam proses tersebut, bila berbagai macam obat diberikan secara bersamaan
dapat menimbulkan suatu interaksi. Selain itu, obat juga dapat berinteraksi
dengan zat makanan yang dikonsumsi bersamaan dengan obat.
Interaksi yang terjadi di dalam tubuh dapat dibedakan
menjadi dua, yaitu interaksi farmakodinamik dan interaksi farmakokinetik.
Interaksi farmakodinamik adalah interaksi antar obat (yang diberikan bersamaan)
yang bekerja pada reseptor yang sama sehingga menimbulkan efek sinergis atau
antagonis. Interaksi farmakokinetik adalah interaksi antar 2 atau lebih obat
yang diberikan bersamaan dan saling mempengaruhi dalam proses ADME (absorpsi,
distribusi, metabolisme, dan eliminasi) sehingga dapat meningkatkan atau
menurunkan salah satu kadar obat dalam darah.
Interaksi
obat dengan makanan
Interaksi antara obat & makanan dapat terjadi ketika makanan yang
kita makan mempengaruhi obat yang sedang kita gunakan, sehingga mempengaruhi
efek obat tersebut. Interaksi antara obat & makanan dapat terjadi baik
untuk obat resep dokter maupun obat yang dibeli bebas, seperti obat antasida,
vitamin dll.
Kadang-kadang apabila kita minum obat berbarengan dengan makanan, maka dapat
mempengaruhi efektifitas obat dibandingkan apabila diminum dalam keadaan perut
kosong. Selain itu konsumsi secara bersamaan antara vitamin atau suplemen
herbal dengan obat juga dapat menyebabkan terjadinya efek samping.
>> Beberapa contoh interaksi obat dan
makanan
Tidak
semua obat berinteraksi dengan makanan. Namun, banyak obat-obatan yang
dipengaruhi oleh makanan tertentu dan waktu Anda memakannya. Berikut adalah
beberapa contohnya:
Jus
jeruk menghambat enzim yang terlibat dalam metabolisme obat sehingga
mengintensifkan pengaruh obat-obatan tertentu. Peningkatan pengaruh
obat mungkin kelihatannya baik, padahal tidak. Jika obat diserap lebih
dari yang diharapkan, obat tersebut akan memiliki efek berlebihan.
Misalnya, obat untuk membantu mengurangi tekanan darah bisa menurunkan
tekanan darah terlalu jauh. Konsumsi jus jeruk pada saat yang sama dengan
obat penurun kolesterol juga meningkatkan penyerapan bahan aktifnya dan
menyebabkan kerusakan otot yang parah. Jeruk yang dimakan secara bersamaan
dengan obat anti-inflamasi atau aspirin juga dapat memicu rasa panas dan asam di perut.
Kalsium atau makanan yang mengandung kalsium, seperti susu dan
produk susu lainnya dapat mengurangi penyerapan tetrasiklin.
Makanan
yang kaya vitamin K (kubis, brokoli, bayam, alpukat, selada) harus
dibatasi konsumsinya jika sedang mendapatkan terapi antikoagulan
(misalnya warfarin), untuk mengencerkan darah. Sayuran itu mengurangi
efektivitas pengobatan dan meningkatkan risiko trombosis (pembekuan
darah).
Kafein meningkatkan risiko overdosis antibiotik tertentu
(enoxacin, ciprofloxacin, norfloksasin).Untuk menghindari keluhan
palpitasi, tremor, berkeringat atau halusinasi, yang terbaik adalah
menghindari minum kopi, teh atau soda pada masa pengobatan.
Interaksi obat dengan obat
Interaksi Famakokinetik
1. Interaksi pada proses absorpsi
Interaksi dala absorbs di saluran cerna dapat disebabkan karena
a. Interaksi langsung yaitu terjadi reaksi/pembentukan
senyawa kompleks antar senyawa obat yang mengakibatkan salah satu atau semuanya
dari macam obat mengalami penurunan kecepatan absorpsi.
Contoh:
interaksi tetrasiklin dengan ion Ca2+, Mg2+, Al2+
dalam antasid yang menyebabkan jumlah absorpsi keduanya turun.
b. Perubahan pH
Interaksi
dapat terjadi akibat perubahan harga pH oleh obat pertama, sehingga menaikkan
atau menurukan absorpsi obat kedua.
Contoh:
pemberian antasid bersama penisilin G dapat meningkatkan jumlah absorpsi
penisilin G
c. Motilitas saluran cerna
Pemberian
obat-obat yang dapat mempengaruhi motilitas saluan cerna dapat mempegaruhi
absorpsi obat lain yang diminum bersamaan.
Contoh:
antikolinergik yang diberikan bersamaan dengan parasetamol dapat memperlambat
parasetamol.
2. Interaksi pada proses distribusi
Di dalam darah senyawa obat berinteraksi dengan protein plasma. Seyawa
yang asam akan berikatan dengan albumin dan yang basa akan berikatan dengan α1-glikoprotein.
Jika 2 obat atau lebih diberikan maka dalam darah akan bersaing untuk berikatan
dengan protein plasma,sehingga proses distribusi terganggu (terjadi peingkatan
salah satu distribusi obat kejaringan).
Contoh: pemberian klorpropamid dengan fenilbutazon, akan meningkatkan
distribusi klorpropamid.
3. Interaksi pada proses metabolisme
a. Hambatan metabolisme
Pemberian
suatu obat bersamaan dengan obat lain yang enzim pemetabolismenya sama dapat
terjadi gangguan metabolisme yang dapat menaikkan kadar salah satu obat dalam
plasma, sehingga meningkatkan efeknya atau toksisitasnya.
Cotoh:
pemberian S-warfarin bersamaan dengan fenilbutazon dapat menyebabkan mengkitnya
kadar Swarfarin dan terjadi pendarahan.
b. Inductor enzim
Pemberian
suatu obat bersamaan dengan obat lain yang enzim pemetabolismenya sama dapat
terjadi gangguan metabolisme yang dapat menurunkan kadar obat dalam plasma,
sehingga menurunkan efeknya atau toksisitasnya.
Contoh:
pemberian estradiol bersamaan denagn rifampisin akan menyebabkan kadar
estradiol menurun dan efektifitas kontrasepsi oral estradiol menurun.
4. Interaksi pada proses eliminasi
a. Gangguan ekskresi ginjal akibat kerusakan ginjal oleh obat
jika
suatu obat yang ekskresinya melalui ginjal diberikan bersamaan obat-obat yang
dapat merusak ginjal, maka akan terjadi akumulasi obat tersebut yang dapat
menimbulkan efek toksik.
Contoh:
digoksin diberikan bersamaan dengan obat yang dapat merusak ginjal (aminoglikosida,
siklosporin) mengakibatkan kadar digoksin naik sehingga timbul efek toksik.
b. Kompetisi untuk sekresi aktif di tubulus ginjal
Jika
di tubulus ginjal terjadi kompetisi antara obat dan metabolit obat untuk sistem
trasport aktif yangsama dapat menyebabkan hambatan sekresi.
Contoh:
jika penisilin diberikan bersamaan probenesid maka akan menyebabkan klirens
penisilin turun, sehingga kerja penisilin lebih panjang.
c. Perubahan pH urin
Bila
terjadi perubahan pH urin maka akan menyebabkan perubahan klirens ginjal. Jika
harga pH urin naik akan meningkatkan eliminasi obat-obat yang bersifat asam
lemah, sedangkan jika harga pH turun akan meningkatkan eliminasi obat-obat yang
bersifat basa lemah.
Contoh:
pemberian pseudoefedrin (obat basa lemah) diberikan bersamaan ammonium klorida
maka akan meningkatkan ekskersi pseudoefedrin. Terjadi ammonium klorida akan
mengasamkan urin sehingga terjadi peningkatan ionisasi pseudorfedrin dan
eliminasi dari pseudoefedrin juga meningkat.
Pasien yang Rentan Terhadap Interaksi Obat
Efek
dan tingkat keparahan interaksi obat dapat bervariasi antara pasien yang satu
de ngan yang lain. Berbagai faktor dapat mempengaruhi kerentanan pasien terhadap
interaksi obat, antara lain yaitu:
1). Pasien lanjut usia
2). Orang yang minum lebih dari
satu macam obat
3). Pasien yang mempunyai
gangguan fungsi ginjal dan hati
4). Pasien dengan penyakit akut
5). Pasien dengan penyakit yang
tidak stabil
6). Pasien yang memiliki
karakteristik genetik tertentu
7). Pasien yang dirawat oleh
lebih dari satu dokter (Fradgley, 2003).
Reaksi
yang merugikan dan interaksi obat yang terjadi pada pasien lanjut usia adalah
tiga sampai tujuh kali lebih banyak daripada mereka yang berusia pertengahan
dan dewasa muda. Pasien lanjut usia menggunakan banyak obat karena penyakit
kronis dan banyaknya penyakit mereka, oleh karena itu mereka mudah mengalami
reaksi dan interaksi yang merugikan (Kee dan Hayes, 1996).
---->>>Reaksi yang merugikan dan interaksi obat
yang terjadi pada pasien lanjut usia lebih
tinggi karena beberapa sebab, yaitu:
1). Pasien
lanjut usia menggunakan banyak obat karena penyakit kronik dan
banyaknya penyakit mereka.
2). Banyak dari
pasien lanjut usia melakukan pengobatan diri sendiri dengan obat
bebas, memakai obat yang diresepkan
untuk masalah kesehatan yang lain, menggunakan obat yang diberikan oleh
beberapa dokter, menggunakan obat yang diresepkan untuk orang lain, dan
tentunya proses penuaan fisiologis yang
terus
berjalan.
3).
Perubahan-perubahan fisiologis yang berkaitan dengan proses penuaan seperti
pada sistem gastrointestinal, jantung
dan sirkulasi, hati dan ginjal dan perubahan ini mempengaruhi respon
farmakologik terhadap terapi obat.
Penatalaksanaan
Interaksi Obat
Langkah
pertama dalam penatalaksanaan interaksi obat adalah waspada terhadap pasien
yang memperoleh obat-obatan yang mungkin dapat berinteraksi dengan obat lain.
Langkah berikutnya adalah memberitahu dokter dan mendiskusikan berbagai langkah
yang dapat diambil untuk meminimalkan berbagai efek samping obat yang mungkin
terjadi. Strategi dalam penataan obat ini meliputi :
1.Menghindari
kombinasi obat yang berinteraksi.
Jika risiko
interaksi obat lebih besar daripada manfaatnya, maka harus
dipertimbangkan
untuk memakai obat pengganti.
2. Menyesuaikan dosis
Jika
hasil interaksi obat meningkatkan atau mengurangi efek obat, maka perlu
dilaksanakan modifikasi dosis salah satu atau kedua obat untuk mengimbangi
kenaikan atau penurunan efek obat tersebut.
3. Memantau pasien
Jika kombinasi
obat yang saling berinteraksi diberikan, pemantauan
diperlukan.
4.Melanjutkan
pengobatan seperti sebelumnya
Jika
interaksi obat tidak bermakna klinis, atau jika kombinasi obat yang berinteraksi
tersebut merupakan pengobatan yang optimal, pengobatan pasien dapat diteruskan
tanpa perubahan (Fradgley, 2003).
Level
Signifikansi Klinis dalam Interaksi Obat
Menurut
Hansten dan Horn (2002) signifikansi klinis dibuat dengan mempertimbangkan
kemungkinan bagi pasien dan tingkat dokumentasi yang tersedia. Setiap interaksi
telah ditandai dengan salah satu dari tiga kelas, yaitu: Mayor, Moderat, atau
Minor. Sistem klasifikasi tersebut telah disesuaikan dengan banyak provider lain
dari informasi interaksi obat. Pengetahuan signifikansi klinis dari suatu
interaksi hanya menyediakan sedikit informasi untuk memilih strategi manajemen
yang tepat untuk pasien khusus. Interaksi obat ditandai dengan salah satu dari
tiga kelas berdasarkan interevensi yuang dibutuhkan untuk meminimalisasi risiko
dari interaksi. Interaksi ditandai berdasarkan nomer signifikansi sebagai
berikut:
1. Interaksi
kelas 1
Sebaiknya
kombinasi ini dihindari, karena lebih banyak risikonya
dibandingkan
keuntungannya.
2. Interaksi
kelas 2
Biasanya
kombinasi ini dihindari, sebaiknya penggunaan kombinasi
tersebut
hanya pada keadaan khusus.
3. Interaksi
kelas 3
Interaksi
kelas 3 ini risikonya minimal, untuk itu perlu diambil tindaka n
yang
dibutuhkan untuk mengurangi risiko.
Konsekuensi dari interaksi obat.
Interaksi obat dapat mengakibatkan
peningkatan atau penurunan yang bermanfaat atau efek merugikan yang diberikan
obat-obatan. Bila interaksi obat meningkatkan manfaat dari administratif obat
tanpa meningkatkan efek samping, kedua obat dapat digabungkan untuk
meningkatkan kontrol terhadap kondisi yang sedang dirawat. Misalnya,
obat-obatan yang mengurangi tekanan darah oleh berbagai mekanisme yang berbeda
dapat digabungkan karena efek menurunkan tekanan darah dicapai oleh kedua
obat-obatan mungkin akan lebih baik dibandingkan dengan obat itu sendiri.
Penyerapan beberapa jenis obat meningkat oleh makanan. Oleh karena itu, obat
ini diambil dengan makanan dalam rangka untuk meningkatkan konsentrasi mereka
didalam tubuh dan, pada akhirnya, mereka berpengaruh. Sebaliknya, bila
penyerapan obat-obatan berkurang oleh makanan, maka obat diambil pada waktu
perut kosong.
Interaksi
obat yang paling banyak dikuatirkan adalah yang mengurangi dari efek yang
diinginkan atau meningkatkan efek merugikan dari obat itu sendiri. Obat yang
mengurangi penyerapan atau meningkatkan metabolisme atau penghapusan obat
lainnya cenderung mengurangi efek dari obat yang lain. Hal ini dapat
mengakibatkan kegagalan terapi atau memerlukan peningkatan dosis obat agar
berpengaruh. Sebaliknya, obat-obatan yang meningkatkan penyerapan atau
mengurangi eliminasi atau metabolisme obat lain yang meningkatkan konsentrasi
obat-obatan lain di dalam tubuh dan menyebabkan lebih banyak efek samping.
Terkadang, obat berinteraksi karena mereka menghasilkan efek samping yang
serupa. Oleh karena itu, bila kedua obat yang menghasilkan efek samping yang
sama digabungkan, frekuensi dan kerasnya dari efek samping yang meningkat.
>> Interaksi
obat dan tembakau/rokok <<
Bahwa merokok mempengaruhi
metabolisme obat sudah lama diketahui. Mekanisme utama dari interaksi ini ialah
biotransformasi obat dipercepat kerana terjadi induksi dari mikrosomal enzim di
hepar yang disebabkan oleh zat-zat yang ada pada asap rokok.bagaimana
presismekanisme ini belum dapat ditentukan.interkasi obat dengan tembakau/rokok
ini mengakibatkan penurunan obat dalam plasma. Dari tabel I di bawah yang
paling penting secara klinis ialah efek terhadap pil keluwarga
berencana (Pil KB) dan oestrogen lainya, juga efek terhadap Theopyllin
dapat tergagu.
1.Oestrogen-tembakau/rokok
Studi
epidemiologis menujukan bahwa efek kardivaskuler seperti “stroke”, infark
miokordial dan thromboembolisme yang dikaitkan dengan penggunaan konstrasepsi
oral (pil KB) jauh lebih besar pada seorang perokok daripada bukan perokok. Resikok
ini meningkatdengan unsure serta jumlah rokok yang diihisp seharinya. Mekanisme
pasti dari interaksi ini masih kurang
jelas. Bagaimanapun, wanita yang sedang ber_KB dengan Pil KB, seharusnya
tidak merokok kerana asap rokok dapat mengurangi kada Oestrogen dalam darah. Dan
kalau wanita ini tidak mau menghentikan rokoknya, maka dia harus memakai cara
kontrasepsi yang lain, misalnya kondom.
2.Theophyllin-tembakau/rokok
Merokok
secara signifikasi merupakan farmakokinetik Theophyllin.
Rokok merasang biotransformasi Theophyllia di hepra dan mengakibatkan
peningkatan kliners Theophyllin, sehigga waktu paruh (t1/2)
Theophyllin menjadi lebih singkat dan kadar dalam darah lebih rendah. Seorang perokok
berat samapai memelukan theophyllin dalam dosis dua kali lipat dari dosis
lazim.
Tabel
I. Efek obat-obat yang dipengaruhi oleh asap rokok
Saran
yang bisa saya berikan pada para pembaca posting Interaksi obat ini tidak banyak, yang penting
dalam memilih obat harus diperhatikan betul interaksinya baik-baik. Dengan
memperhatikan interaksi obat yang akan terjadi jika digunakan, ini dapat
dilihat dari indikasi dan kontrak indikasi karena cara ini cukup mudah dan bisa
digunakan di lapangan.
Setiap
obat pasti memiliki interaksi pada obat lain maupun makanan, hal ini tidak bisa
di hilangkan karena akan saling mempengaruhi satu dengan yang lain. Bisa di
anologikan secara sederhan suatu interaksi obat dengan matematis contoh 1+1= 2
jika suatau obat di berikan bersamaan dan memiliki khasiat yang sama makan akan
memperkuat efek yang dinginkan.
Tidak bisa di pungkiri dalam mengunaka obat pasti akan terjadi interaksi obat, tapi hal ini tidak boleh membuat kita takut. dengan adanya interaksi obat ini maka kita dapat merancang/memformulisasikan obat agar di dapatkan manfaat yang maksimal(khasiat). Intinya dengan adanya interaksi obat ini kita jangan takut malah ini bisa digunakan untuk penyembuhan.
Literatur saya ambil dari beberapa sumber media onlaind dan beberapa buku di antaranya :
Maaf jika ada yang belum saya masukan dalam daftar literatur yang saya gunakan dalam posting kalih ini. Akan saya tambahi literaturnya nanti, maaf karena saya sedikit lupa.
Sumber
bacaan :
- Melader A, Dabielson K, Schereten B, et
al. Enhancement by food of Canrenone biovailability form spironolactone. Clin
Pharmacol Ther 199; 22:100-103.
-
Jung D. Clinical Pharmacokinetics.
Moduls Yogyakarta 1985.
Dan
masih banyak lagi sumber bacaan yang ada untuk menambah pemahan kita.